Jumat, 8 Mei 2026

Ribuan Orang Menari Belentung, Tarian Khas Desa Jatitujuh Majalengka

Tari Belentung resmi dibawakan dalam Festival Tanah Air ke-6 oleh ribuan orang dari berbagai kalangan, Jumat

Tayang:
Editor: Ichsan
tribunjabar/eki yulianto
Ribuan orang menari belentung di Majalengka 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Eki Yulianto

TRIBUNJABAR.ID, MAJALENGKA - Tari Belentung resmi dibawakan dalam Festival Tanah Air ke-6 oleh ribuan orang dari berbagai kalangan, Jumat (25/10/2019).

Tari yang memiliki 14 gerakan itu menjadi salah satu daya tarik dalam rangkaian festival yang digelar di Bendung Rentang, tepatnya di Desa Jatitujuh, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka.

Pantauan Tribuncirebon.com di lokasi, ribuan orang dari anak-anak hingga dewasa tampak antusias dalam mengikuti setiap gerakan yang dipandu oleh beberapa instruktur tari tersebut.

Salah satu jalan yang berada di pinggir Bendung Rentang, dipadati oleh ribuan penari baik dari kalangan pelajar, Muspika Kecamatan Jatitujuh, Ibu-ibu PKK, komunitas dan masyarakat umum.

Bahkan, Bupati Majalengka, Karna Sobahi sekaligus membuka acara yang digelar selama 4 hari itu, ikut serta dalam menari tarian Belentung itu.

Menurut pelatih tari Belentung, Oki Sandy mengatakan, tari Belentung memiliki 14 gerakan.

Ia menjelaskan dari 14 gerakan itu, di setiap gerakannya memiliki makna yang terkandung di dalamnya.

"Ada 14 gerakan dalam tarian Belentung ini, yaitu sembah puter eyeg-eyeg (doa pembuka), Merekeh Heum-Heuk (membuka mata), Mincid Aclek (perjalanan), Gibas-gibas (menampakkan diri), Tumpang Acer (Bergembira)," ujar OKI saat ditemui di lokasi, Jumat (25/10/2019).

Nella Kharisma Ternyata Punya Kakak Perempuan yang Tak Kalah Cantik, Lihat Foto Saat Mereka Bersama

Lanjut Oki menyampaikan, selanjutnya Igel Putar (putaran suka cita), Sabet Guar (gembira berlimpahnya air dan makanan), Ngalageday (mencumbu alam), Rengkuh Godeg Dzikir (puncak ekspresi rasa syukur).

Acred Acleg (melompat gembira), Putar Bahu Mundur Aclog (puncak kegembiraan), Tali Ngojay (berenang di air sawah), Mincid Aclek (perjalanan) dan terakhir Sidakep Nutup (hormat penutup).

"Dari 14 gerakan itu, dibagi dua masing-masing 7 gerakan memiliki makna kemanusiaan, dan 7 gerakan lainnya memiliki nilai ketuhanan. Hablu mina Allah dan Hablu minanas," ucap dia.

OKI juga menjelaskan Tari Belentung lahir sebagai refleksi dari kondisi alam yang terjadi saat ini, di daerah agraris, khususnya Jatitujuh.

"Tari Belentung itu awal kelahirannya sebagai refleksi mutakhir kami terhadap tanah dan sawah yang semakin hari, semakin habis," kata Ojo yang juga sebagai pencetus Tari Belentung.

Embrio kelahiran Tari Belentung sendiri, muncul pada tahun lalu. Saat itu, jelas Oki, sempat ada pembicaraan antar seniman teater di Cirebon, yang didalamnya membahas tarian lokal.

Sumber: Tribun Cirebon
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved