LIPI Minta Pemda Aktif Sosialisasikan Mitigasi Bencana, Ini Tujuannya
Selain itu, daratan Jawa Barat jgua dikeliling beberapa sesar aktif lainnya, semisal Sesar Cimandiri, Baribis, Garsela, dan sesar Lembang.
Penulis: Cipta Permana | Editor: Theofilus Richard
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Cipta Permana
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Peneliti aktivitas kegempaan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Mudrik Rahmawan Daryono, mengatakan bahwa meski selama periode 4-11 lalu tercatat telah terjadi gempa sebanyak 22 kali, namun tidak dapat menjadi acuan bahwa gempa tersebut disebabkan aktivitas sesar lembang.
Saat ini juga belum ada hasil penelitian yang dapat menjelaskan waktu tepat terjadinya gempa di jalur Sesar Lembang.
Selain itu, daratan Jawa Barat jgua dikeliling beberapa sesar aktif lainnya, semisal Sesar Cimandiri, Baribis, Garsela, dan sesar Lembang.
"Secara rentang siklus gempa bumi antara 170-670 tahun, saat ini kita ada di dalam fase tersebut, dan tidak ada yang mampu memastikan kapan itu akan terjadi. Tapi paling penting adalah pemahaman dari masyarakat dan juga pemerintah daerah terkait upaya mitigasi seperti apa yang perlu dilakukan," ujarnya saat dihubungi melalui sambungan telepon. Minggu (13/10/2019).
• Pekan Tersibuk, Markas Bali United Gelar 3 Laga Termasuk Persib dan Kualifikasi Piala Dunia 2022
Mudrik menjelaskan, sebagai peneliti, pihaknya telah dan sudah cukup sering menyampaikan hasil penelitian terkait beragam potensi aktivitas kegempaan yang dapat terjadi di seluruh wilayah di Jawa Barat, baik kepada Pemerintah Kabupaten Bandung Barat, Kota Bandung, serta Provinsi Jawa Barat.
Dengan demikian, diharapkan pemerintah menanggapi hal tersebut dengan menyosialisasikan mitigasi bencana kepada masyarakat.
"Kami sudah cukup sering menyampaikan akan potensi yang terjadi, salah satunya saat puncak peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana 2019 lalu. Sejauh ini pemerintah daerah mulai aware (peka) terhadap hal tersebut. Dengan adanya rencana itu, membuat penyediaan skema mitigasi, pengurangan risiko, dan penanggulan bencana berkelanjutan. Maka tinggal penerapan kesiapsiagaan dan kemampuan menghadapi bahaya tersebut dapat disampaikan bagi masyarakat," ucapnya.
• Mantan Teroris Blak-blakan, Sebut Penyerangan Wiranto Bukanlah Sebuah Rekayasa
Edukasi mitigasi bencana, kata Mudrik, akan membuat masyarakat tidak perlu panik mengahadapi potensi yang kapan saja bisa terjadi.
"Edukasi mitigasi kebencanaan, menjadi modal penting yang harus dimiliki oleh masyarakat, sehingga masyarakat lebih siaga dan waspada juga tetap tenang dalam melakukan aktivitasnya sehari-hari," katanya.
• Sesar Lembang Mulai Picu Gempa, Sudah Ada di Fase Siklus 500 Tahun Gempa Besar
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/ilustrasi-gempa-di-jawa-barat.jpg)