Sesar Lembang Mulai Picu Gempa, Sudah Ada di Fase Siklus 500 Tahun Gempa Besar
Satu dari 22 gempa yang terjadi di Jawa Barat selama sepekan, 4-11 Oktober, berasosiasi dengan Sesar Lembang.
TRIBUNJABAR.ID, LEMBANG - Sesar Lembang, yang membentang sejauh 20 kilometer antara Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat (KBB), hingga Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung, terus menggeliat.
Satu dari 22 gempa yang terjadi di Jawa Barat selama sepekan, 4-11 Oktober, berasosiasi dengan Sesar Lembang.
Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Bandung meminta warga di sekitar patahan meningkatkan kewaspadaan.
Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung pada Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Tony Agus Wijaya, mengatakan, gempa dari aktivitas Sesar Lembang tahun ini tercatat dengan magnitudo kecil, kurang dari 3.
Meski demikian, magnitudo yang kecil tidak selalu berarti bahwa dampak yang ditimbulkannya juga kecil.
Gempa dengan kekuatan 3,3 SR di Desa Jambudipa, Desa Pasirhalang, dan Desa Tugumukti, Kecamatan Cisarua, akhir Agustus 2011, menjadi bukti.
Sebanyak 384 rumah rusak. Pusat gempa berada persis di lintasan Sesar Lembang.
Tony mengatakan, 22 gempa bumi yang terjadi di Jabar selama sepekan terakhir memiliki magnitudo bervariasi, mulai M 2.2 sampai M 4.8, yang didominasi oleh kejadian gempa bumi dangkal (<130 km).
Menurut Tony, gempa-gempa ini berasal dari dua sumber utama.
"Pertama, dari zona subduksi lempeng Indo-Australia terhadap lempeng Eurasia yang dimulai dari selatan hingga ke utara Jawa Barat. Kedua, dari sesar aktif yang berlokasi di daratan Jawa Barat," ujarnya saat dihubungi Tribun melalui pesawat telepon, Jumat (11/10).
Ia mengatakan, setidaknya terdapat empat sesar aktif di daerah ini, yaitu Sesar Cimandiri, Sesar Lembang, Sesar Baribis, dan Sesar Garsela.
"Adapun di daerah Selat Sunda hingga selatan Banten terdapat beberapa sesar aktif, yaitu Sesar Ujung Kulon dan Sesar Semangko," kata Tony.
Berdasar catatan selama satu minggu terakhir ini, ujar Tony, gempa bumi yang terjadi di Jabar dan sekitarnya sudah mereka kelompokkan berdasarkan sumbernya.
Sepuluh kejadian gempa di selatan Jabar hingga Banten dan kejadian di barat daya Lampung mungkin berasosisasi dengan zona subduksi antara lempeng Indo-Australia dengan lempeng Eurasia.
Penyebab ini pun mungkin berasosiasi dengan gempa bumi yang sempat terjadi di Kabupaten Tasikmalaya dengan skala II MMI dan di Garut Selatan serta Kabupaten Sukabumi dengan skala I-II MMI.
Adapun satu kejadian gempa bumi di barat daya Banten mungkin berasosiasi dengan Sesar Ujung Kulon.
Tiga kejadian gempa bumi mungkin berasosisasi dengan sesar lokal di Kabupaten Bogor. Satu kejadian lainnya mungkin berasosisasi dengan Sesar Lembang.
Gempa ini terjadi pada 4 Oktober pukul 18.56.37 dengan kekuatan M 2.5 (SR). Pusat gempa berada tiga kilometer barat laut Kabupaten Bandung.
Pada Maret lalu, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengumumkan adanya fase pelepasan energi atau biasa disebut dengan ulang tahun gempa yang terkait dengan Sesar Lembang.
Peneliti LIPI, Mudrik R Daryono, saat itu mengatakan Sesar Lembang berpotensi menghasilkan guncangan dengan kekuatan memasuki fase siklus pelepasan energi.
Siklus ini, kata dia, sudah selama 560 tahun belum terjadi gempa kembali.
"Kalau kami hitung siklus gempa bumi antara 170 tahun sampai 670 tahun. Kita saat ini sudah ada di fase-fase itu. Intinya, pemda dan warga masyarakat KBB harus paham mengenai ini," ucapnya.
Mudrik mengatakan, tak ada yang bisa memastikan kapan gempa besar itu terjadi. "Bisa saja 100 tahun akan datang. Bisa juga terjadi besok.
Tapi, yang jelas saat ini sudah masuk fase itu. Saya yakin pemda lebih paham terhadap masyarakatnya sendiri dan apa-apa saja yang harus dilakukan," katanya saat itu.
Jangan Panik
Tentang potensi gempa besar ini, Tony mengatakan, sekalipun potensi gempa besar itu ada, masyarakat tak boleh panik, tapi harus selalu waspada.
Indonesia memang termasuk daerah yang rawan gempa karena berada dalam rangkaian lingkaran api pasifik.
"Gempa bumi adalah aktivitas alam dan menjadi tetangga kita. Jadi, kita bisa hidup harmonis bersama gempa dengan melakukan langkah mitigasi pergurangan risiko secara bertahap dan dimulai dari dekat kita," katanya.
Upaya mitigasi ini, menurut Tony, di antaranya dilakukan dengan merencanakan jalur evakuasi ke ruangan terbuka terdekat, menata interior agar benda berat tidak jatuh saat gempa, dan memeriksa bangunan agar memenuhi syarat bangunan tahan gempa.
"BMKG siap melayani informasi gempa. Masyarakat dapat memperoleh info melalui aplikasi HP di 'info BMKG' dan medsos Facebook, Twitter, Instagram di 'info BMKG'," katanya.
Wakil Gubernur Jabar Uu Ruzhanul Ulum mengatakan, keberadaan sejumlah sesar aktif dan subduksi lempeng antarbenua di Jabar terus menjadi perhatian serius Pemprov Jabar.
Dihubungi melalui pesawat telepon, Sabtu (12/10), ia mengatakan, pemerintah dan masyarakat harus selalu waspada tapi tidak panik.
Mitigasi bencana, ujarnya, sudah sering dilakukan. Mitigasi diperlukan untuk membentuk masyarakat yang selalu siaga dan memiliki pengetahuan mengenai potensi bencana dan bagaimana menyikapinya.
"Dengan situasi ini kita harus hati-hati dan sekali lagi tidak panik. Kalau panik, nantinya malah tidak melaksanakan kegiatan sehari-hari. Tetap saja tenang, tapi waspada," katanya. (syarif abdussalam)