Aksi Mahasiswa Dua Pekan Terakhir, Pengamat Menilai Masih Ada yang Belum Tahu Substansi Tuntutan

Ramai aksi mahasiswa dua pekan terakhir, pengamat menilai masih ada yang belum tahu substansi tuntutan yang dibahas.

Aksi Mahasiswa Dua Pekan Terakhir, Pengamat Menilai Masih Ada yang Belum Tahu Substansi Tuntutan
Tribun Jabar/Mega Nugraha
Diskusi Antara Opini Rakyat, pemerintah dan Kondisi Bangsa Pascaaksi Mahasiswa di Sekretariat DPD KNPI Jabar, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Mega Nugraha Sukarna

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Sksi mahasiswa selama dua pekan terakhir terkait revisi UU KPK dan RKUHP baru, dinilai banyak yang masih belum mengetahui substansi tuntutan yang dibahas.

Hal itu dibahas dalam diskusi Antara Opini Rakyat, Pemerintah dan Kondisi Bangsa Pascaaksi Mahasiswa di Sekretariat DPD KNPI Jabar, Jalan Soekarno-Hatta Bandung.

Salah satu pembicara, Adiyana sebagai pengamat politik mengatakan, aksi mahasiswa dilandasi basis intelektual keilmuan yang dimiliki.

Namun, pada aksi penolakan revisi UU KPK dan RKUHP, ia menilai kognisi keilmuannya tidak ditemukan.

"Basis kognisi politik mahasiswa yang aksi kemarin tidak terpenuhi karena ketika bicara UU KPK dan RKUHP, saat ditanya, banyak dari mereka yang tidak paham. Itu kan jadi problem," kata Adiyana.

Mahasiswa sebagai entitas dan identitas gerakan perubahan di masyarakat akan sangat bagus jika mampu menguasai masalah sesuai basis intelektualnya.

"Bukan maksud saya mencegah mahasiswa demo, tapi mahasiswa ini punya basis intelektual mumpuni, apa yang disampaikan harus berisi," kata dia.

Ia menambahkan, saat ini demokrasi di Indonesia meniscakan pertarungan wacana di media arus utama ataupun alternatif.

"Sehingga begitu cepat gelombang informasi, ‎mahasiswa terbakar psikologisnya lalu turun demo pada akhir pekan lalu. Rumus dari mana bisa secepat itu, tanpa ada kajian keilmuan dan konsolidadi," kata dia.

Dampak dari fakta gerakan mahasiswa yang tidak menguasai tema, mereka kemudian ditunggangi oleh kelompok-kelompok tertentu.

"Aksi 23 September awalnya gerakan murni mahasiswa, didorong opini bahwa KPK jangan dilemahkan meski basis pengetahuan terhadap UU KPK masih lemah. Hari kedua dan seterusnya ditunggangi kelompok tertentu yang ingin benturkan mahasiswa dengan rakyat dan mahasiswa dengan pemerintah," katanya.

Karena itu, ia mewanti-wanti pada para mahasiswa untuk memperkuat basis intelektualnya dengan keilmuan yang dimiliki. Dengan begitu, jadi modal dasar untuk mencegah aksi mahasiswa tidak ditunggangi.

Fakta-fakta Wiranto Ditusuk di Alun-alun Menes, Sempat Temui Mahasiswa dan Pelaku Pakai Gunting

Polisi Cegat Mahasiswa di Gerbang Unpad, Awalnya Mahasiswa Gugup Akhirnya Tersenyum Senang

Penulis: Mega Nugraha
Editor: taufik ismail
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved