Air Sumur Mengering, Emak-emak di Cirebon Ini Terpaksa Mandi dan Cuci Pakaian di Saluran Irigasi
Warga Desa Kerandon dan Cirebon Girang, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon, terpaksa memanfaatkan saluran irigasi
Penulis: Hakim Baihaqi | Editor: Ichsan
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hakim Baihaqi
TRIBUNJABAR.ID, CIREBON - Warga Desa Kerandon dan Cirebon Girang, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon, terpaksa memanfaatkan saluran irigasi untuk mandi cuci kakus akibat kesulitan mendapatkan air bersih selama musim kemarau.
Sejak tiga bulan terakhir ini, sebagian besar sumur milik warga dalam kondisi kering dan tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Pantauan Tribun Jabar, Selasa (20/8/2019), warga dua desa yang sebagian besar merupakan ibu rumah tangga ini, mendatangi saluran irigasi atau susukan tersebut mulai dari pukul 06.00 WIB hingga 09.00 WIB.
Berbagai aktivitas yang dilakukan oleh ibu rumah tangga alias emek-emak di saluran irigasi tersebut yakni, mencuci pakaian, mencuci peralatan rumah tangga, mandi, hingga ada yang melakukan buang air besar (BAB).
• Kelakuan Aneh Bocah Cianjur, Kalau Tak Nemu Ular dan Kodok, Kucing Pun Ditarik Sampai Mati
Meskipun kondisi air saluran air tampak jernih, sampah rumah tangga, mulai dari plastik kemaran, botol minuman, hingga potongan ranting pohon, terlihat mengotori aliran sungai.

Gayatri (50), warga Desa Kerandon, mengatakan, aktivitas tersebut setiap tahunnya dilakukan oleh ia bersama warga lainnya, karena sumur yang ada di rumahnya hampir surut dan tidak cukup untuk digunakan kebutuhan sehari-hari.
"Kalau untuk masak, mungkin air sumur sih cukup. Kalau buat mencuci tidak," kata Yayah kepada Tribun Jabar di saluran irigasi, Jalan Kuwu Sangkan, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon, Selasa (20/8/2019).
• Lirik Lagu Honne - Location Unknown dan Cara Downloadnya, Jadi Viral Gara-gara Gempi
Dimusim kemarau saat ini, menurut warga kondisi saluran irigasi sangat aman untuk dimanfaatkan, karena volume air jauh lebih sedikit dibandingkan musim hujan yang kerap mencapai kedalaman satu meter lebih.
Warga lainnya, Suharti (60), mengatakan, meskipun tercampur dengan sampah rumah tangga, air di saluran tersebut dianggap masih layak digunakan untuk mencuci dan tidak meninggalkan noda dipakaian.
"Aman-aman saja, tidak pernah mengeluhkan apa-apa. Berharap tidak," katanya.