Hari Kemerdekaan Indonesia

Salma El Mutafaqqiha, Gadis Cantik Pembawa Bendera Merah Putih, Lahir di Malang, Usianya 17 Tahun

Inilah Salma El Mutafaqqiha Putri Achzaabi, gadis cantik pembawa bendera merah putih dalam upacara di Istana Negara, Sabtu (17/8/2019).

Penulis: Fidya Alifa Puspafirdausi | Editor: Theofilus Richard
KOMPAS.com/Ihsanuddin
Salma El Mutafaqqiha, Gadis Cantik Pembawa Bendera Merah Putih, Lahir di Malang, Usianya 17 Tahun 

Lahir di Wajo, 3 Agustus 1964, saat ini menjabat sebagai Kepala Staf Garnisun Tetap I Jakarta.

Beliau merupakan lulusan Akademi Militer tahun 1989.

 Paskibraka 2019 yang anggotanya berasal dari perwakilan masing-masing provinsi di Indonesia sebelumnya telah dikukuhkan oleh Presiden Joko Widodo pada Kamis, 15 Agustus 2019, di Istana Negara.

Sebanyak 68 pemuda telah mengucapkan Ikrar Putra Indonesia dan siap untuk menjalankan tugasnya pagi ini.

(Tribun Jabar)

Dapat Remisi dan Bebas Saat HUT ke-74 RI, Mantan Ketua Bawaslu Garut Menangis

Memeriahkan HUT RI ke-74, Mobil Soeharto Dipajang di Pintu Masuk Istana Negara

Kereta Kencana Pembawa Bendera

Kereta kencana yang membawa bendera pusaka menuju Istana pada upacara peringatan Hari Kemerdekaan ke-74 Republik Indonesia ternyata dibuat di Purwakarta.

Kereta kencana bernama Ki Jagaraksa itu dibuat pada tahun 2013.

Mantan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi yang mengikuti mengatakan, tahun ini, kereta kencana Ki Jagaraksa kembali menjadi pembawa bendera pusaka menuju Istana.

"Ini merupakan tahun yang keempat mengikuti kirab pembawa bendera," kata Dedi melalui sambungan telepon, Sabtu (17/8/2019).

Kereta ini sudah hampir seminggu lalu berada di Jakarta.

kereta kencana Ki Jakaraksa
kereta kencana Ki Jakaraksa (handout vida kompas.com)

Hari ini, kereta tersebut sudah berada di Monas untuk membawa bendera pusaka merah putih.

Dedi bercerita, kereta kencana Ki Jagaraksa dibuat sebagai bentuk penghormatan kepada leluluhur sunda, yaitu Prabu Siliwangi.

Menurut dia, pembuatan kereta Kencana Ki Jakaraksa ini berawal dari keprihatinannya bahwa Sunda sudah kehilangan spirit masa lalunya.

Hal itu, berbeda dengan Jawa, Sumatera, Bugis, yang masih menjunjung tinggi sejarah dan latar belakangnya dari masa lalu.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved