Pembedahan Invasif Minimal Pada Pasien Stroke
Pembedahan invasif minimal pada pasien stroke di Santosa Hospital. Penyakit ini menjadi salah satu penyakit yang ditakuti masyarakat.
TRIBUNJABAR.ID - Stroke kini menjadi salah satu penyakit yang ditakuti masyarakat, karena penderita penyakit ini di Indonesia mengalami peningkatan.
Ketakutan akan penyakit ini karena serangannya mendadak hingga stroke juga kerap disebut sebagai the silent killer.
Sebutan ini karena masih cukup banyak masyarakat yang kurang memahami gejala dan penanganan stroke yang tepat. Masyarakat masih ada yang menganggap penyakit ini tidak bergejala dan ketika menyerang bisa langsung berakibat fatal.
Dokter Spesialis Bedah Syaraf Santosa Hospital Bandung Kopo, dr Hasan Sp BS mengatakan, penyakit stroke bukan tidak bergejala tapi gejalanya kerap diabaikan. Stroke adalah sindroma fokal neurologi yang terjadi mendadak yang disebabkan oleh gangguan pada pembuluh darah otak akibat proses patologis pada pembuluh darah otak.
Proses ini dapat berupa penyumbatan lumen pembuluh darah oleh trombosis atau emboli dan pecahnya dinding pembuluh darah otak yang menyebabkan pendarahan.
Perubahan dinding pembuluh darah otak dapat bersifat primer karena kelainan kongenital atau degeneratif dan proses sekunder yang disebabkan proses lain.
"Karena itulah, penyebab stroke sangat multifaktorial," katanya.
Stroke juga merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan keadaan cedera otak yang disebabkan oleh abnormalitas suplai darah ke bagian otak. Dapat dibagi ke dalam dua bentuk yakni iskemik dan hemoragik.
Pada iskemik yang terjadi adalah penyumbatan darah, sehingga suplai darah untuk melanjutkan fungsi normal pada jaringan otak tidak cukup. Sedangkan hemoragik berarti perdarahan di parenkim otak. Iskemia otak lebih sering dijumpai daripada hemoragik, tetapi tindakan pembedahan paling sering dilakukan pada stroke hemoragik.
Dalam upaya memperbaiki outcome pasien stroke, mencegah kecacatan dan mengurangi angka kematian, maka tatalaksana stroke harus di lakukan dengan cepat. “Time is Brain”, semakin lama, waktu penanganan stroke, semakin banyak sel-sel otak dan sinaps yang mengalami kerusakan dan semakin besar kemungkinan pasien akan meninggal atau cacat permanen.
Karena itu, penanganan stroke di fase akut harus dioptimalkan, mengingat stroke adalah kasus yang outcomenya bersifat time-dependent, semakin cepat ditatalaksana, semakin baik luarannya.
"Dengan penekanan pada prinsip time is brain, maka kita harus mengingat bahwa terapi defenitif stroke harus segera di berikan dalam waktu yang cepat. Dengan adanya fasilitas dan sistem penunjang yang lengkap dan memadai, maka respon time penanganan stroke akut dapat dioptimalkan," katanya.
Untuk gejala, katanya, pada pasien sering ditemukan ada gangguan penglihatan di mana-mana tiba-tiba pandangan kabur dan wajah tidak simetris atau mencong sebelah kanan, bisa juga sebelah kanan. Selain itu ditemukan juga pasien tiba-tiba saat bicara cadel dan ada pelemahan anggota gerak seperti tangan dan kaki bahkan keduanya.
Seiring perkembangan zaman, jumlah pasien kian banyak dan tidak memandang usia. Bila dulu banyak menyerang usia tua dengan riwayat kencing manis, kolesterol, dan terbanyak karena hipertensi. Namun saat ini, stroke bisa menyerang usia produktif.
Dicontohkan, ia pernah menangani pasien usia 20 tahun. Penyebab strokenya karena ada kelainan struktur dinding pembuluh darah otak.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/pembedahan-di-santosa-hospital.jpg)