Selasa, 7 April 2026

Soal Temuan TGPF, Novel Baswedan: Cenderung seperti Mengolok-olok Saya

Padahal, Novel Baswedan berharap TGPF juga akan mendalami temuan Komnas HAM tentang adanya abuse of process dalam pemeriksaan Novel dan para saksi

ANTARA FOTO/HAFIDZ MUBARAK A via Kompas.com
Penyidik KPK Novel Baswedan (kiri) bersama Ketua Wadah Pegawai KPK Yudi Purnomo (kanan) memberikan keterangan kepada wartawan di dekat kediamannya, di Kelapa Gading, Jakarta, Minggu (17/6/2018). Wadah Pegawai KPK mendesak Presiden Joko Widodo membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) untuk mengungkap pelaku penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan. 

TRIBUNJABAR.ID, JAKARTA- Temuan Tim Gabungan Pencari Fakta ( TGPF ) terkait penyerangan terhadap Novel Baswedan ternyata membuat penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK ) itu kecewa.

Novel Baswedan menyebut hasil pendalaman TGPF malah terkesan menjadikannya sebagai penyebab kejadian itu.

Padahal, Novel Baswedan berharap TGPF juga akan mendalami temuan Komnas HAM tentang adanya abuse of process dalam pemeriksaan Novel dan para saksi terhadap kasus tersebut.

Novel mnyampaikan kekecewaannya itu dalam program "Mata Najwa" yang ditayangkan Narasi TV dan diunggah pada Kamis (25/7/219).

Salah satu temuan TGPF, diduga Novel Baswedan, menggunakan kekuasaan yang berlebihan atau excessive use of power saat menjalankan tugasnya sebagai penyidik.

"Saya melihat kok malah memberikan opini dan cenderung seperti mengolok-olok saya. Dikatakan bahwa seolah penyerangan terhadap diri saya itu karena salah saya sendiri," ujar Novel dalam tayangan yang dikutip pada Jumat, (26/7/2019).

Jokowi Beri Kapolri Waktu 3 Bulan untuk Temukan Penyerang Novel Baswedan

6 Bulan TGPF Kerja dan Dianggap Gagal Ungkap Pelaku, Novel Baswedan Makin Terpukul

Semestinya, kata Novel Baswedan, tim gabungan memeriksa lebih detil dan mendalam bukti-bukti di lokasi kejadian serta para saksi mata untuk menemukan pelaku lapangan.

Apa yang disampaikan tim dalam rilis, kata Novel, terkesan bersifat opini alih-alih mengungkap hasil investigasi terhadap barang bukti yang ada. Selain itu, ia merasa rekomendasi Komnas HAM pun diabaikan.

"Pemeriksa yang sebelumnya juga dilibatkan dalam tim ini. Apakah pemeriksa itu mampu memeriksa dirinya sendiri? Saya kira itu tidak logis dalam pemikiran saya," kata Novel Baswedan.

Novel mengakui, sejak awal, ia tak menaruh harapan besar pada tim gabungan tersebut. Makanya, ia tak heran jika isi temuannya tak memuaskannya.

Hasil temuan TGPF justru terkesan menjatuhkannya dan membuatnya sebagai penyebab penyerangan itu terjadi.

"Bukannya tim ini harusnya fokus untuk investigasi, fokus untuk mengungkap hal yang tersembunyi atau tidak terungkap dari pemeriksaan sebelumnya?" kata Novel Baswedan.

6 Kasus High Profile Ini Diduga Picu Balas Dendam dan Serangan Terhadap Novel Baswedan

"Saya tidak lihat pembahasannya terkait dengan bukti utama, termasuk bukti yang hilang atau diduga dihilangkan," ujar dia.

Sebelumnya diberitakan, TGPF kasus Novel Baswedan menyimpulkan bahwa penyerangan yang dialami Novel diduga akibat penggunaan kekuasaan yang berlebihan atau excessive use of power oleh Novel saat menjalankan tugas.

Anggota TGPF, Hendardi, mengatakan bahwa hal itu diduga memicu pihak yang sakit hati terhadap Novel dan melakukan serangan terhadap penyidik KPK tersebut.

Sumber: Kompas
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved