Saridal: Seharusnya Rel di Bandung Raya Sudah Elevated sejak 10 Tahun Lalu
Kereta Cepat Jakarta-Bandung dengan stasiun akhir di Tegalluar, Kab Bandung, membutuhkan koneksi kereta lanjutan dari Tegalluar ke Stasiun Bandung
Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam | Editor: Dedy Herdiana
Laporan Wartawan Tribun Jabar, M Syarif Abdussalam
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung dengan stasiun akhir di Tegalluar, Kabupaten Bandung, membutuhkan koneksi kereta lanjutan dari Tegalluar ke Stasiun Bandung.
Hadirnya rangkaian kereta baru ini berdampak terhadap bertambahnya frekuensi kereta yang melintasi Bandung Raya dan akhirnya membuat penutupan palang pintu perlintasan rel kereta api dengan jalan raya pun akan semakin sering terjadi.
Executive Vice President PT KAI Daop 2 Bandung, Saridal, mengatakan wacana membangun rel kereta api layang atau elevated dari Padalarang sampai Gedebage pun kembali dibahas dalam Rapat Pembahasan Rencana Pembangunan Kereta Api Perkotaan Trase Tegalluar-Stasiun Bandung di Gedung Sate, Senin (22/7/2019).
"Seharusnya jalur kereta api dari Padalarang sampai Gedebage sudah elevated sejak 10 tahun lalu. Karena sepanjang itu ada 17 perlintasan sebidang antara jalur kereta api dan jalan raya yang semakin ramai," kata Saridal.
• Jalur Kereta Api Padalarang-Ciranjang Bakal Mendahului Jalur Cibatu-Garut, Segera Diaktifkan
Seharusnya, katanya, perlintasan atau perpotongan antara jalan raya dan rel kereta api sudah tidak ada jika proyek yang digagas dan siap dibiayai Perancis tersebut dilaksanakan 10 tahun lalu. Saridal mengatakan Feasibility Study (FS) dan Detail Engineering Design (DED) pembangunan rel elevated ini pun sudah ada.
Jika dibandingkan dengan Medan di Sumatera Utara yang sedang membangun jalur kereta layang dan kini sudah rampung 50 persennya, katanya, pembangunan di Jabar ini bisa dibilang sudah sangat tertinggal.
• Bisa Bertahan di Semua Iklim, Ini Keunggulan Kereta Cepat Menurut Dirut KCIC
Akibatnya, katanya, kerugian berupa kemacetan lalu lintas dan dampak lainnya di perlintasan kereta api dialami warga Bandung. Kondisi pun semakin buruk dengan aktivitas kereta api dan jalan raya yang semakin ramai.
"Kenapa kita ajukan untuk menghilangkan perlintasan sebidang, karena dengan adanya jalur nyambung dengan kereta cepat, dan disambung feeder yang ada, maka buka-tutup perlintasan akan lebih intens. Perlintasan sebidang harus kita pikirkan," katanya. (Sam)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/mrt-jakarta.jpg)