Sabtu, 11 April 2026

Fikom Unisba Terus Berbenah Guna Mengantisipasi Dimulainya Era Revolusi Industri 4.0

Seiring dengan dimulainya era revolusi industri 4.0 yang turut berdampak pada bidang pendidikan di tanah air,

Penulis: Cipta Permana | Editor: Ichsan
Tribunjabar/Cipta Permana
Rektor Unisba, Prof Edi Setiadi membeberikan penghargaan PiCA Award 2019 kategori Lifetime Achievement kepada Atang Syamsudin kegiatan milad Fikom Unisba ke-36 di Aula Unisba, Jalan Tamansari, Bandung, Kamis (27/6/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Cipta Permana

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Seiring dengan dimulainya era revolusi industri 4.0 yang turut berdampak pada bidang pendidikan di tanah air, Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung (Fikom Unisba), terus beradaptasi guna menjawab tantangan tersebut, dengan mengkomparasikan antara aspek kurikulum teori komunikasi dengan konsep keislaman yang sudah berjalan sejak dua semester lalu.

Dekan Fikom Unisba, Septiawan K. Santana mengatakan, penguatan komparasi antara kurikulum dengan konsep keislaman, dianggap lebih relevan dan dapat menjadi solusi dengan tantangan revolusi industri 4.0 dibandingkan dengan harus menambah jumlah prodi baru. Sebab penguatan pendidikan karakter dan kompetensi menjadi hal yang tidak mungkin tergantikan dengan kondisi perubahan zaman.

"Jadi, tantangan era disrupsi tersebut belum sampai pada tataran profesi, tapi masih penguatan skill. Oleh sebab itu, penguatannya di kurikulum. Jadi, kita mempersiapkan dulu skill mahasiswanya. Kalau skillnya sudah mumpuni, tantangan apapun bisa dilalui," ujarnya usai kegiatan milad Fikom Unisba ke-36 di Aula Unisba, Jalan Tamansari, Kota Bandung, Kamis (27/6/2019).

Diakuinya, sudah banyak acuan dan referensi tentang tantangan revolusi industri yang ia pegang, namun wujudnya belum bisa diaplikasikan dalam sebuah profesi bidang komunikasi. Seperti halnya prodi atau kajian jurnalistik, dengan adanya era disrupsi tidak berarti meniadakan jurusan/prodi/kajian ini. Tapi, yang harus berubah adalah indsutri medianya yang mau tidak mau harus mengikuti perkembangan zaman.

Setelah Ezechiel, Rene, dan Jupe, Persib Juga Terancam Kehilangan Pemain Ini Kontra Bhayangkara FC

Dengan demikian, lanjutnya profesi wartawan akan masih tetap dibutuhkan meski saat ini memasuki era industri 4.0 yang lebih memaksimalkan penggunaan internet dan digitalisasi dalam setiap aspek. Pesatnya perkembangan teknologi informasi justru akan menambah kualitas produk jurnalistik itu sendiri seperti dari sisi tampilan, dan profesi wartawan menjadi pekerjaan yang menarik karena didukung oleh kecanggihan teknologi yang ada.

"Hal ini terbukti dengan menjamurnya portal berita dalam jaringan (online) saat ini.
Oleh karena itu, profesi wartawan harus selalu dinamis serta melakukan inovasi dan improvisasi dalam menyajikan informasi kepada masyarakat, dengan tetap menghasilkan konten berita yang mudah diakses yang didukung oleh kecanggihan teknologi, namun tetap tidak mengilangkan nilai kredibilitas, akurat, dan bermanfaat bagi semua," ucapnya

Oleh karena itu, Hal inipun menjadi tantangan bagi Fakultas Ilmu Komunikasi yang menjadi induk disiplin ilmu profesi wartawan. Unisba, telah menyesuaikan dengan kondisi saat ini khususnya terkait digitalisasi kepada para wartawannya.

"Kami juga telah menyiapkan perangkat atau fasilitas yang mampu meningkatkan jumlah karya tulis ilmiah penelitian bagi para dosen, sebagaimana yang disyaratkan oleh Kemenristekdikti, seperti coaching clinic, paper camp dan peragkat penjang lainnya," ujar dia.

Ini yang Dilakukan Capres Prabowo dan Jokowi saat MK Sidang Putusan Sengketa Pilpres 2019

Dengan begitu, ia berharap lulusan fikom bisa meningkatkan keahlian salah satunya dengan menguasai teknologi informasi.

Sementara itu, Rektor Unisba, Prof. Edi Setiadi mengatakan, dengan tantangan revolusi industri 4.0 diharapkan Fikom, termasuk fakultas yang lain tidak hanya jadi penonton, tapi harus cepat meresponsnya dengan baik dan ikut berperan.

"Terlebih, dunia komunikasi itu perkembangannya sangat cepat. Oleh karenanya, harus cepat merespons, kalau tidak ya akan ketinggalan zaman," ujar Edi di lokasi yang sama.

Terlebih menurutnya, Fikom Unisba merupakan fakultas yang banyak dipilih oleh masyarakat dengan prestasi akreditasinya yang sudah "A".

"Ini menjadi modal Fikom Unisba untuk bisa membuktikan, bahwa kita bisa. Bisa berperan dalam menghadapi tantangan revolusi industri. Jangan merasa sudah besar di dalam kampus sendiri. Karena, yang menilai besar adalah masyarakat bukan kita, maka jangan sampai hanya menjadi penonton dari perubahan revolusi yang ada, dan itu harus bisa di raih," ucapnya.

Tidak hanya kepada Fikom, dalam setiap rapat pimpinan ia juga selalu menekankan kepada para dekan untuk merespons tantangan zaman yang ada. Banyak cara untuk mewujudkan hal tersebut, di antaranya dengan silaturahmi dan kerjasama dengan berbagai pihak, seperti industri, alumni, dan lainnya.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved