Sabtu, 9 Mei 2026

Organda Garut Ancam Mogok Massal, Buntut Kericuhan dengan Angkutan Online

Aksi mogok massal akan dilakukan Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kabupaten Garut.

Tayang:
Penulis: Firman Wijaksana | Editor: Ichsan
tribunjabar/firman wijaksana
Sejumlah pengemudi ojek online berkumpul di Cimasuk, Desa Suci Kaler, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut seusai seorang rekannya diduga dipukul tukang ojek pangkalan, Minggu (23/6/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Firman Wijaksana

TRIBUNJABAR.ID, GARUT - Aksi mogok massal akan dilakukan Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kabupaten Garut. Rencana tersebut menyusul kericuhan yang beberapa kali terjadi antara angkutan online dan konvensional di Kabupaten Garut.

Ketua Organda Garut, Yudi Nurcahyadi menuturkan, sejak awal keberadaan angkutan online sudah terjadi ketegangan. Namun pengusaha angkutan umum akhirnya membiarkan keberadaan angkutan online. Meski belum menerima keberadaan angkutan online.

"Sampai sekarang belum ada yang memediasi. Baik dari pemerintah maupun perusahaan online. Sejak bulan puasa saya juga sudah sampaikan masalah ini ke Kapolres," ucap Yudi di Kantor Organda, Jalan Merdeka, Garut, Senin (24/6/2019).

Puncaknya pada sepekan terakhir, sudah beberapa kali terjadi bentrokan. Hal itu terjadi lantaran angkutan online memaksa mengantar penumpang. Padahal sudah ada perjanjian angkutan online hanya boleh mengantar hingga ojek pangkalan.

Selain itu, pengemudi online terkesan tak menghargai angkutan lain. Mereka sudah berani memakai atribut. Dengan perkembangan zaman, Yudi menyadari angkutan online sulit dilarang.

Ezechiel N Douassel Bisa Main Lawan Bhayangkara FC, Tidak Terlalu Parah, Sakit Sudah Berkurang

"Bukan untuk dilawan, cuma regulasi dari pusatnya belum jelas. Harus duduk bersama dan bicarakan soal regulasi," katanya.

Ia menyebut, pengusaha angkutan umum dan ojek pangkalan jelas tersinggung dengan aktivitas angkutan online. Ditambah banyak yang menduga berkurangnya pendapatan angkutan umum karena adanya angkutan online.

"Namanya sudah urusan perut sudah susah. Makanya perlu dibicarakan baik-baik. Jangankan di Garut, di Bandung saja bisa saling menghargai. Jangan pakai atribut kalau masuk. Silent lah kalau mau," ujarnya.

Yudi mempersilakan semua pihak yang bertindak anarkis untuk diproses hukum. Pihaknya pun akan melakukan gerakan jika ada perlawanan dari angkutan online.

"Kalau online lakukan gerakan, itu sudah kesampingkan hukum. Kami akan lawan keberadaan angkutan online kalau mereka kesampingkan aparat. Polisi juga harus bertindak jika dari dua belah pihak lakukan aksi anarkis," katanya.

Dalam waktu dekat, Organda akan mengumpulkan ojek pangkalan, delman, dan angkutan umum. Pihaknya akan merencanakan aksi mogok massal untuk melawan keberadaan angkutan online dan menyuarakan aspirasi.

"Dulu juga sama waktu ada angkot diprotes sama delman dan ojek. Tapi kan ada regulasinya. Kalau sekarang online belum ada regulasi tapi sudah beroperasi," ucapnya.

Eks Kadisdik Cianjur Sebut Irvan Rivano Minta Bantuan Dana Ongkos Politik 2018

"Jika tidak ada solusi yang ditawarkan, jangan salahkan kami kalau ada gejolak lebih besar. Kami akan lakukan perlawanan, gerakan jalanan. Kami juga terus menahan diri," katanya.

Bupati Garut, Rudy Gunawan meminta semua pihak menahan diri. Saat ini pemerintah pusat, tengah menggodok regulasi mengenai angkutan online.

"Sabar dulu, jangan dibawa anarkis. Sweeping juga tidak tepat. Semuanya harus mendapat perlindungan," ujar Rudy di Lapangan Setda Garut.

Rudy menyebut sudah meminta kepolisian untuk meredakan ketegangan. Ia juga meminta agar tak ada aksi sweeping yang dilakukan.

"Nanti akan duduk satu meja. Nanti setelah ada dari pusat, akan digodok untuk peraturan di daerahnya," katanya.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved