35 Persen Warga Kampung Cikawung Baleendah Masih BAB di Kolam atau Sungai, MCK-nya Sedikit

Warga RW 08 Kampung Cikawung, Kelurahan Wargamekar, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, membutuhkan fasilitas

Penulis: Mumu Mujahidin | Editor: Ichsan
Tribunjabar/Mumu Mujahidin
35 persen warga Kampung Cikawung Baleendah masih BAB di kolam atau sungai 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Mumu Mujahidin

TRIBUNJABAR.ID, BALEENDAH - Warga RW 08 Kampung Cikawung, Kelurahan Wargamekar, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, membutuhkan fasilitas mandi cuci kakus (MCK) lebih layak dan banyak. Dari 576 kepala keluarga sekitar 35 persennya belum memiliki MCK pribadi.

Menurut pantauan Tribun Jabar, Selasa (18/6/2019), sejak pagi hari warga RW 08, Kampung Cikawung ini berbondong-bondong ke satu tempat mandi umum yang berada di RT 06, yang letaknya berada di tengah pemukiman padat penduduk.

Setiap harinya untuk kegiatan mandi dan mencuci, baik pakaian maupun peralatan rumah tangga warga harus memanfaatkan kamar mandi umum. Sementara untuk Buang Air Besar (BAB) sebagian besar warga ada yang sudah memilik septiktenk komunal sendiri.

Namun masih ada juga warga yang masih memanfaatkan empang atau kolam ikan untuk BAB, dengan hanya ditutupi sebuah asbes atau bahan terpal yang dibentuk persegi panjang tanpa atap. Ada juga warga yang memanfaatkan aliran sungai untuk kegiatan BAB.

Ketua RW 08 Aep Saepudin (75), menuturkan dari sekitar 576 KK yang tinggal di RW 08 Kampung Cikawung, Kelurahan Wargamekar, sekitar 65 persennya sudah memiliki MCK dan sisanya belum memiliki.

"Ada sekitar 35 persen yang belum punya MCK. Ada juga yang sudah punya cubluk (septiktenk komunal) tapi tidak ada kamar mandinya. Jadi untuk mandi, masak, nyuci mah tetap ke kamar mandi umum," tuturnya saat ditemui di lokasi, tadi siang.

Amsor yang Menyerang Sopir Bus di Tol Cipali KM 150 Berprofesi sebagai Satpam Sejak Lulus SMA

Menurutnya di RW 08 sendiri terdapat lima tempat mandi umum yang digunakan oleh ratusan warga dengan kondisi yang sangat kumuh. Lima kamar mandi umum kumuh ini tersebar di 10 RT di RW 08.

Di sekitar kamar mandi umum tersebut, banyak sampah rumah tangga yang dibuang begitu saja oleh warga setempat. Sampah-sampah yang didominasi bahan plastik ini juga banyak memenuhi saluran pembuangan air atau selokan di sekitar permukiman warga.

Bahkan dari lima tempat mandi umum yang ada di kampungnya itu, tidak ada satu pun yang dilengkapi oleh fasilitas untuk buang air besar (BAB) atau septictank komunal.

"Ada lima semuanya tanpa septiktenk. Kondisinya memang kurang laik ditambah kotor karena masih banyak warga yang masih membuang sampah sembarangan. Kami sudah sering mengingatkan warga untuk tidak membuang sampah sembarangan," katanya.

Pasutri di Tasikmalaya Pertontonkan Adegan Ranjang kepada Anak-anak, Setiap Anak Dipungut Rp 5 Ribu

Aep mengatakan, meski kondisi sumber air di kampungnya terbilang cukup bagus kualitasnya, dirinya mengeluhkan soal kondisi bangunan tempat mandi umum tersebut yang kurang laik dan kumuh karena banyak sampah.

"Harapannya ada penambahan kamar mandi umum yang lebih laik dan dilengkapi dengan septiktenk komunal karena masih banyak warga yang belum memiliki septiktenk," ujarnya.

Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved