Ini Sejarah Singkat Balai Kota Bandung

Pendirian balai kota dilatarbelakangi oleh status Bandung sebagai Kota Praja sejak 1906.

Penulis: Cipta Permana | Editor: Agung Yulianto Wibowo
Tribun Jabar/Cipta Permana
Balai Kota Bandung 

Laporan Reporter Tribun Jabar, Cipta Permana

GEMEENTE huis atau gedung balai kota di Kelurahan Babakan Ciamis, Kecamatan Sumur Bandung, merupakan satu di antara bangunan tertua yang ada di Kota Bandung.

Selain berfungsi sebagai kantor wali kota dan wakil wali kota Bandung, serta para aparatur sipil negara (ASN) Pemkot Bandung, bangunan bercat putih ini juga merupakan satu di antara heritage atau cagar budaya yang dimiliki Kota Bandung.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Tribun, dari berbagai sumber, bangunan ini pada tahun 1819 digunakan sebagai koffie pakhuis atau gudang kopi milik Andries de Wilde, tuan tanah pertama dan Asisten Residen Priangan pada 1812.

Andries memiliki gudang kopi itu karena pada abad ke-18 perkebunan kopi Priangan sedang berkembang pesat.
Hal ini lantas menjadi daya tarik bagi banyak wisatawan dan turis asing untuk kemudian ingin mengambil alih hasil bumi tersebut.

Pada tahun 1923, gudang itu pun diserahkan kepada pemerintah kolonial Belanda.

Hanya berselang empat tahun, tepatnya pada tahun 1927, gudang itu pun dirobohkan dan diganti menjadi gedung balai kota yang dirancang seorang arsitek bernama EH de Roo.

Pendirian balai kota dilatarbelakangi oleh status Bandung sebagai Kota Praja sejak 1906.

Setelah berdiri, bangunan berbentuk persegi memanjang itu kemudian menjadi kantor wali kota Bandung, yang sebelumnya berada di kawasan pusat perekonomian masyarakat saat itu di Bragaweg atau kini bernama Jalan Braga.
Bangunan bekas kantor wali kota menjadi kantor BJB Syariah sekarang.

Selain itu, perpindahan lokasi ini pun disebabkan Jalan Wastukencana dinilai lebih strategis dibandingkan lokasi sebelumya.

Bahkan, sejumlah bangunan publik pendukung pemerintahan pun sebelumnya sudah didirikan di sekitar balai kota, seperti Javasche Bank (1909), Gereja Kathedral (1921), dan Gereja Bethel (1925).

Seiring dengan berkembangnya Kota Bandung, pada tahun 1935 balai kota kemudian mengalami perluasan dengan menambah bangunan di belakangnya oleh EH de Roo.

Dia merancang gedung baru ini dengan gaya art deco sehingga berkesan lebih modern dibandingkan kondisi sebelumnya.

Hal ini dapat terlihat pada bagian atap gedung yang tampak datar, dan bangunan ini disebutkan juga sebagai Gedung Papak.

Bagian depan bangunan ini menghadap lurus ke arah Pieter Sijthoffpark atau sekarang dikenal dengan nama Taman Balai Kota atau Taman Dewi Sartika, yang merupakan taman bersejarah dan tertua di Kota Bandung yang dibangun pada tahun 1885.

Selain Taman Dewi Sartika, Balai Kota Bandung juga memiliki taman lainnya, yaitu Taman Sejarah.

Nama itu diambil karena di taman ini terdapat ukiran relief terkait sejarah Bandung di era Wiranatakusumah, serta terdapat daftar nama beberapa wali kota Bandung sejak masa penjajahan Belanda hingga saat ini.  (*)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved