Sejarah Bandung
Cerita SLBN Cicendo, Sempat Diduduki Tentara Jepang dan Jadi Rumah Sakit Bersalin
SLBN Cicendo saat penjajahan Jepang sempat diduduki oleh tentara Jepang.
Penulis: Syarif Pulloh Anwari | Editor: taufik ismail
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Syarif Pulloh Anwari
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Gedung Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Cicendo Bandung sempat diduduki tentara Jepang saat Jepang menjajah Indonesia.
Berdasarkan data dan dokumen sejarah dari SLB Negeri Cicendo Bandung, lahan bangunan yang menempati lahan seluas kurang lebih 10.000 meter persegi ini, dipergunakan tentara Jepang selama menjajah indonesia dari tahun 1942 hingga tahun 1945.
"Ya, sekolah ini sudah ada diperuntukan bagi penyandang tuli-bisu, tapi pada masa pemerintahan Jepang, itu sempat beralih dipergunakan oleh tentara Jepang dan setelah peperangan," ujar Wakasek Kurikulum guru kelas XI, Ine Rahayu saat ditemui Tribun Jabar di SLBN Cicendo Kota Bandung, Kamis (14/3/2019).
Ine menceritakan menurut sejarah saat itu, gedung sekolah sempat dijadikan rumah sakit bersalin
"Gedung sekolah ini juga sempat beralih menjadi rumah sakit bersalin," ujar Ine.
Selanjutnya, setelah Jepang kalah, gedung sekolah tersebut dikembalikan fungsinya pada tanggal 1 Juni 1949.
Pada tahun 1954 Departemen Pendidikan menetapkan lembaga pendidikan untuk para penyandang cacat di Indonesia dinamakan Sekolah Luar Biasa (SLB).
Ine menuturkan pada tahun 2009, SLBN Cicendo Bandung, resmi mejadi sekolah negeri.
"Bulan Februari 2009 kita berubah status, sekolah ini menjadi negeri oleh Gubernur Jawa Barat," ujarnya
Bangunan dengan gaya arsitek Art Deco ini menjadi bangunan Cagar Budaya kategori A yang ditetapkan perda Kota Bandung No : 19/2009. Keterangan ini ditulis di sebuah keramik yang ditempel ditembok depan bangunan sekolah tersebut.
Bangunan Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Cicendo Bandung di Jalan Cicendo Nomor 2, Kota Bandung merupakan sekolah bagi siswa tunarungu tertua di Indonesia.
SLBN Cicendo Bandung didirikan pemerintahan Kolonial Belanda pada 3 Januari 1930 atas inisiatif Ny CM Roelfsema Wesselink, istri Dokter HL Roelfsema, seorang ahli THT di Indonesia.
"Sekolah ini paling tua se-Indonesia untuk sekolah tuli bisu, bahkan se Asia dan sekolah pertama tuli bisu," ujar Wakasek Kurikulum guru kelas XI, Ine Rahayu saat ditemui Tribun Jabar di SLBN Cicendo Kota Bandung, Kamis (14/3/2019).
Sekolah ini dibangun pada 6 Mei 1933 oleh Karisidenan Priangan dan Hoogedelgeboren Vrouwe A.C de Jonge, Gebaran Baronesse Van Wassenoar, istri dari Gouverneur Generaal Van Nederland disch Indie, Zijne Excellentie Mr. D.C. de Jonge.
Pada 8 Desember 1933 gedung sekolah dan asrama diresmikan, jumlah muridnya 26 orang dan 6 orang tinggal di luar asrama.
• [VIDEO]- SLB Negeri Cicendo, Sekolah Tertua bagi Tunarungu se-Asia, Sempat Jadi Klinik Bersalin
• Bangunan SLBN Cicendo Bandung Kental Nuansa Belanda Tempo Dulu
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/sekolah-luar-biasa-negeri-slbn-cicendo-bandung.jpg)