Kepala BNPT Suhardi Alius: Hard Power Tak Selesaikan Akar Masalah Terorisme

 saat inilah momen yang tepat untuk memformulasikan pencegahan terorisme.

Kepala BNPT Suhardi Alius: Hard Power Tak Selesaikan Akar Masalah Terorisme
Tribun Jabar/Machmud Mubarok
Kepala BNPT Komjen Pol Drs Suhardi Alius MH memberikan sambutan saat pembukaan Rakernas 32 FKPT se Indonesia di Ancol Jakarta, Senin (18/2/2019). 

TRIBUNJABAR.ID, JAKARTA - Pendekatan softpower akan tetap dipakai  Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) untuk menanggulangi gerakan radikalisme dan terorisme di Indonesia. Pendekatan hard power dinilai tidak akan menyelesaikan akar persoalan terorisme

"Soft power ini jadi idola dunia, Indonesia jadi contoh. Ini yang akan terus kita kembangkan," kata Kepala BNPT Komjen Pol Drs Suhardi Alius MH saat membuka rapat kerja nasional (Rakernas) 32 Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) se Indonesia di Hotel Mercure Ancol, Jakarta, Senin (18/2/2019).

Sesuai dengan UU Anti-Terorisme yang baru, kata Suhardi, BNPT akan dikembangkan menjadi 6 deputi dan akan menempatkan perwakilan di luar negeri.

"Perwakilan ini perlu, karena ada kasus-kasus terorisme yang melibatkan WNI. Contoh ISIS. Juga ada list dari Amerika yang mencekal 36 ribu orang dari seluruh Indonesia dan pasti ada WNI nya. Di situ perlunya perwakilan," kata Suhardi.

Suhardi mengatakan, tantangan zaman ini sangat berat. Teknologi telah menggerus nilai-nilai moral di tengah masyarakat.

"Etika sudah tereduksi. Anak SMP bisa seenaknya memukul gurunya, menantang gurunya. Ini berbahaya bagi kehidupan kita. Dari hal-hal kecil ini bisa muncul bibit radikalisme," ujar Suhardi.

Menurutnya, saat inilah momen yang tepat untuk memformulasikan pencegahan terorisme. Suhardi mengatakan, salah satunya sebagai solusi daya tangkal adalah kearifan lokal.

"Persoalannya kita tidak punya dokumentasi yang kuat tentanag budaya. Padahal di sana itu ada nilai-nilai filosofis dan moral. Akibatnya anak-anak muda tidak mengenal local genius. Cek saja sejauh mana pengetahuan budaya anak milenial. Sementara di saat yang sama, mereka mengonsumsi atau diterpa budaya luar," jelasnya. (*)

Penulis: Machmud Mubarok
Editor: Machmud Mubarok
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved