Perkuat Toleransi, Tokoh Lintas Agama Sepakat Perkuat Silaturahmi
Menciptakan perdamaian dan toleransi antar umat beragama, harus didahului dari menjaga kerukunan internal dengan umat yang beragama sama.
Penulis: Theofilus Richard | Editor: Seli Andina Miranti
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Theofilus Richard
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG – Silaturahmi menjadi kunci memperkuat toleransi antar umat beragama di Kota Bandung.
Hal itu disampaikan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Bandung, Ahmad Suherman, ketika ditemui di acara open house Gereja Katedral Santo Petrus, Bandung, Selasa (25/12/2018).
“Masalah bisa dipecahkan dengan silaturahmi. Kuncinya hanya silaturahmi. Dalam ajaran Islam, silaturahmi memperbanyak persaudaraan,” kata Ahmad Suherman.
Pemain-pemain yang Digosipkan Bakal Gabung Persib Bandung, Ada Pemain Asli Bandung https://t.co/l5WkVLyesl
— Tribun Jabar (@tribunjabar) December 24, 2018
Satu di antar bentuk silaturahmi, kata Ahmad Suherman, adalah dengan pergelaran open house ini.
Senada dengan Ahmad Suherman, Uskup Keuskupan Bandung, Mgr Antonius Subianto, juga mengatakan bahwa Gereja Katolik terus berjuang menjalin silaturahmi dengan sesama umat beragama demi meningkatkan toleransi.
Melalui silaturahmi juga diharapkan meneguhkan komitmen pejabat pemerintahan, TNI, Polri, tokoh agama, dan tokoh masyarakat untuk menjadi teladan masyarakat dalam hidup bertoleransi antar umat beragama.
Menurut Mgr Antonius Subianto, komitment tersebut harus benar-benar kuat, mengingat masyarakat menghadapi tantangan dalam hidup bertoleransi, yaitu berita kebohongan dan kebencian yang dianggap menjadi pengganggu kehidupan bertoleransi.
• Seperti Ini Suasana Membludaknya Taman Lalu Lintas Bandung di Liburan Natal Kali Ini [VIDEO]
“Kami perjuangkan terus menerus bagaimana Kota Bandung menjadi kota contoh sebagai kota yang damai dan memang pernah disebut beberapa kali Kota Bandung menjadi kota damai dan bertoleransi,” kata Mgr Antonius Subianto.
Ia juga mengatakan bahwa untuk menciptakan perdamaian dan toleransi antar umat beragama, harus didahului dari menjaga kerukunan internal dengan umat yang beragama sama.
Setelah itu barulah kemudian membangun kerukunan antar umat beragama.
Ia mengibaratkan seperti sebuah keluarga. Tidak mungkin membela keadilan di luar, jika di dalam keluarga sendiri, keadilan itu tidak tercipta.
Melalui kerukunan antar umat beragama, Mgr Antonius Subianto berharap pelanggaran hak asasi manusia bisa dihentikan.
• Pemprov Jabar Kebut Serapan Anggaran Sampai Akhir Tahun
“Kami masih prihatin masih ada orang orang yang tidak peduli hati nurani, tidak mendengar suara hati, tidak malu kepada sesama, tidak takut pada Tuhan, sehingga masih terjadi pelanggaran hak asasi manusia yang mencoreng cita-cita Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/suasana-open-house-gereja.jpg)