Jumat, 10 April 2026

Refleksi Maulid Nabi Muhammad, Eddy Soeparno Ajak Warga Berpolitik Santun Seperti Rasulullah

Eddy Soeparno mengatakan sikap keseharian Nabi Muhammad Saw wajib diamalkan termasuk dalam berpolitik.

Editor: taufik ismail
istimewa
Sekjen PAN yang juga calon anggota DPR RI dapil Jabar 3, Eddy Soeparno bersama para habib dan tokoh ulama Kota Bogor menghadiri acara peringatan maulid Nabi Muhammad Saw 1440H, di Majelis Taklim Istiqomah, Jalan Pemda, Kelurahan Kedung Halang, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor (Selasa/20/11/2018). 

TRIBUNJABAR.ID, BOGOR - Sekretaris Jenderal (Sekjen) yang juga calon anggota DPR RI Dapil Jabar III, Eddy Soeparno, mengatakan sikap keseharian Nabi Muhammad Saw wajib diamalkan termasuk dalam berpolitik.

Ia menambahkan, jika sikap politik Rasulullah Saw diamalkan di dalam pemerintahan maka bukan tidak mungkin Indonesia terbebas dari jerat korupsi dan politik negatif.

"Keteladanan Rasulullah Saw tidak terbantahkan dalam menegakkan syariat Islam, termasuk di dalam bernegara wajib bagi kita meneladani beliau dalam keseharian kita termasuk dalam berpolitik," kata pria yang akrab disapa Kang Eddy ini, Selasa (20/11/2018).

"Jika kita mengamalkan sikap politik Rasulullah Saw dalam bernegara buka tidak mungkin negara kita akan terbebas dari politik negatif dan korupsi," ucapnya.

Momentum Maulid Nabi Muhammad Saw 1440 H yang bertepatan dengan musim politik pemilu 2019, dikatakannya sebagai momen merefleksikan diri untuk kembali meneladani sosok agung yang dijamin menjadi penghuni surga oleh Allah SWT.

"Sebagai seorang muslim kita harus memanfaatkan momentum ini untuk bersama-sama berkaca pada diri sendiri apakah yang kita kerjakan sudah sejalan dengan ajaran Islam dan sunnah Nabiallah Saw," ujarnya.

Ia mengatakan, terdapat empat sifat Rasulullah Saw yang sudah seharusnya diamalkan dalam kehidupan sehari-hari maupun berpolitik. Yang pertama adalah sidiq, yakni bertindak sesuai dengan ucapan. Menjadi rakyat maupun wakil rakyat yang beringegritas. Yang kedua adalah amanah yang juga berarti berkredibilitas.

"Sebagai rakyat maupun wakil rakyat kita harus bertindak sesuai dengan ucapan bukan hanya pandai berucap tapi tidak berbuat," kata dia.

"Tidak hanya jujur tetapi juga terpercaya yang kredibilitasnya dapat dibuktikan, mengedepankan hati nurani dalam mengambil pilihan dan memutuskan sesuatu," ucapnya.

Selanjutnya, ia menjelaskan terkait sikap tabligh yang juga berarti komunikatif. Penyampaian pesan harus dapat dimengerti oleh masyarakat luas sehingga tidak menimbulkan kebingunan. Menyampaikannya pun juga harus menggunakan tata cara yang baik dan jujur kepada diri sendiri dan orang lain yang mendengarkan.

"Tentu saja terdapat perbedaan ketika berbicara kepada kaum intelektual dan masyarakat awam, maka dari itu harus pintar menyesuaikan kepada setiap lapisan masyarakat," katanya.

Yang terakhir, Kang Eddy, mengatakan terkait sikap fathonah. Seperti yang diketahui oleh seluruh umat islam, kecerdasan dan kreativitas Rosululllah Saw sangat menonjol. Sebagai contoh ketika Nabi Muhammad Saw melibatkan seluruh kepala suku di Kota Makkah untuk meletakkan batu Hajjar Aswad di Kakbah dan ketika menyatukan kaum Anshar dan Muhajirin melalui ukhuwah islamiyah di Madinah.

"Baiknya mengemukakan konsep yang cerdas seperti Rasulullah SAW, memperbanyak diaolog bersama rakyat dan wakil rakyat agar menghasilkan konsep yang terbaik," paparnya.

Disamping itu, ia juga mengimbau untuk mengedepankan rasa kebersamaan dan meneladani kehidupan berpolitik Nabi Muhammad. Selalu memerintahkan kepada yang makruf, selalu berbicara untuk menyatukan umat, menciptakan keharmonisan bangsa, dan teladan yang indah.

"Rasa kebersamaan dan persaudaraan harus kita kedepankan dalam menyikapi tahun politik saat ini agar tidak menimbulkan perpecahan dan meneladani Rasulullah Saw dalam mengejar kebaikan," ucap Kang Eddy.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved