Tetapkan Tersangka, Ini Rangkaian Fakta yang Ditemukan Polisi Terkait Pembakaran Bendera di Garut

Uus Sukmana menjadi tersangka kasus pembakaran bendera di Garut. Ini rangkaian fakta yang ditemukan polisi.

Tetapkan Tersangka, Ini Rangkaian Fakta yang Ditemukan Polisi Terkait Pembakaran Bendera di Garut
Tribun Jabar/Mega Nugraha
Direktur Ditreskrimum Polda Jabar, Kombes Umar Surya Fana, saat memberikan keterangan kepada wartawan tentang pembakaran bendera di Garut, Rabu (24/10/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Mega Nugraha Sukarna

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pembawa bendera pada peringatan ‎Hari Santri Nasional (HSN) di Alun-alun Kecamatan Limbangan, Kabupaten Garut, Senin (22/10/2018), Uus Sukmana (20), resmi ditetapkan sebagai tersangka dugaan tindak pidana Pasal 174 KUH Pidana.

Dalam Pasal 174 KUH Pidana disebutkan, ‎Barangsiapa dengan sengaja mengganggu rapat umum yang tidak terlarang, dengan mengadakan huru-hara, atau membuat gaduh, dihukum penjara selama-lamanya tiga minggu atau denda sebanyak-banyaknya Rp 900.

Berikut rangkaian fakta temuan polisi terkait kasus ini menurut keterangan Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jabar, Kombes Umar Surya Fana.

  •  Kejadian pembakaran bendera tidak bisa dilihat dari video pembakaran yang viral. Namun, harus dilihat secara utuh, mulai dari sebelum hari kejadian.
  • Panitia peri‎ngatan HSN dalam rapat-rapat sebelum apel HSN menyepakat sejumlah hal. Larangan membawa bendera selain merah putih pada hari apel, pesan-pesan yang disampaikan berupa pesan perdamaian, NKRI, Pancasila dan UUD 1945. Panitia juga menempuh perizinan pada polisi terkait acara.
  • Peserta apel berasal dari Kecama‎tan Limbangan, Malangbong dan Leuwigoong. Artinya, di luar itu tidak bisa hadir.
  • Faktanya, saat peringatan HSN ada peserta membawa bendera hitam di tengah peserta apel yang membawa bendera Merah Putih.
  • Petugas keamanan yang ditunjuk panitia, langsung mengamankan pembawa bendera. Sempat ditanyai identitas dan diketahui bernama Uus Sukmana, mengaku berasal dari Kecamatan Cibatu. Namun Uus tidak membawa KTP atau kartu identitas lainnya. Bendera pun disita, pembawa bendera dipersilakan ikut upacara.
  • Merasa spontan, mereka membakar bendera tersebut karena menurut pengetahuan dan pemahaman yang dimilikinya, bendera tersebut merupakan bendera organisasi massa Hizbut Thahrir Indonesia (HTI), ormas yang dibubarkan dan dilarang pemerintah. Dibakar supaya tidak bisa digunakan lagi.
  • Dua pembakar bendera dan ketua panitia sempat diamankan. Video pembakaran pun viral. Polisi memeriksa mereka dan hasilnya polisi menyebut tidak ditemukan unsur niat jahat atau mens rea pada diri si pembakar. Pembakaran dilakukan berdasarkan pemahaman bahwa bendera itu bendera HTI.
  • Berdasarkan keterangan saksi-saksi di lokasi kejadian, polisi menyatakan itu bendera HTI. Polisi menggunakan teori sebab akibat, jika ‎Uus tidak membawa bendera, maka tidak akan ada pembakaran bendera.
  • Rangkaian sebab akibat dan larangan panitia membawa bendera merah putih pada apel HSN disimpulkan sebagai niat jahat Uus untuk membuat kegaduhan‎ pada rapat-rapat umum yang tidak terlarang sebagaimana diatur di Pasal 174 KUH Pidana.
  • Kamis (25/10/2018) polisi mengamankan Uus di Jalan Laswi Kota Bandung. Selama pemeriksaan, Uus mengaku membeli bendera itu dari seseorang di Facebook, mengakui simpatisan HTI, dan pernah berunjuk rasa di Jakarta akhir 2016.
  • Jumat (26/10/2018) malam, polisi resmi menetapkan Uus sebagai tersangka yang dijerat Pasal 174 sedangkan pembakar bendera berstatus saksi.

"Tersangka tidak ditahan karena ancamannya di bawah 5 tahun. Pembakar atau saksi tidak dijerat Pasal 55 atau terkait turut serta melakukan tindak pidana 174 KUH Pidana karena unsurnya tidak terbukti," ujar Umar.

Pembawa Bendera dalam Kasus Pembakaran Bendera di Garut Resmi Jadi Tersangka

Penulis: Mega Nugraha
Editor: taufik ismail
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved