Warga Keluhkan Angkot dan PKL yang Semrawut di Cicalengka, Ini Alasan Sopir Angkot dan Para Pedagang
Puluhan angkutan kota (angkot) berbagai trayek berhenti sembarang tempat, sehingga lalu lintas dari arah Bandung menuju Garut atau pun sebaliknya.
Penulis: Hakim Baihaqi | Editor: Seli Andina Miranti
Laporan wartawan Tribun Jabar, Hakim Baihaqi
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Warga Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung, berharap pemerintah dapat menertibkan pedagang kaki lima (PKL) dan angkutan kota (angkot), yang berada di sekitar di sekitar Alun-alun Cicalengka.
Dari pantaun Tribun Jabar, Kamis (25/10/2018), di Jalan Raya Cicalengka, terdapat deretan pedagang kaki lima (PKL) yang menggelar dagangannya di bahu jalan, terutama di sekitar Gedung Nasional Cicalengka.
Puluhan angkutan kota (angkot) berbagai trayek pun berhenti sembarang tempat, sehingga lalu lintas dari arah Bandung menuju Garut atau pun sebaliknya, mengalami hambatan saat melintasi jalan tersebut.
Jokowi Sentil Politikus Tukang Fitnah dengan Sebutan Sontoloyo, Fadli Zon: Istilah Agak Kasar https://t.co/Y6jmVngbUy via @tribunjabar
— Tribun Jabar (@tribunjabar) October 24, 2018
Warga pun menuding keberadaan PKL dan angkot yang berhenti disembarang tempat, menjadi penyebab kemacetan di Jalan Raya Cicalengka atau tepatnya di sekitar Masjid Besar Cicalengka, setiap harinya.
Siti Rosidah (40), warga Kecamatan Cicalengka, mengatakan, keberadaan dua permasalahan tersebut, seharusnya ditertibkan oleh pemerintah, karena menyebabkan kesemrawutan di pusat keramaian Cicalengka.
"Setiap hari kan banyak orang yang beraktivitas di sini, harusnya ditata, biar tidak terlalu kacau," kata Siti di Jalan Raya Cicalengka, Kecamatan Cicalengka, Kamis (25/10/2018).
Untuk berjalan kaki di sekitar area tersebut, warga pun tidak bisa menggunakan fasilitas trotoar, sehingga terpaksa berjalan kaki di bahu jalan dan berisiko mengalami kecelakaan karena lalu lalang kendaraan.
• Bupati Cirebon Kena OTT KPK, PDIP Belum Bahas Penggantinya
Nining (45), seorang PKL, mengatakan, kalau ia bersedia ditertibkan oleh pemerintah setempat, namun dengan catatan harus direlokasi ke tempat yang lebih kayak.
"Beberapa kali ditertibkan, tetapi tidak dikasih tempat, yasudah balik lagi saja ke jalan, urusan perut soalnya," katanya.
Salah seorang sopir angkot, Endang (53), mengatakan, di sekitar alun - alun ada sebuah terminal, namun dalam kondisi sepi dan para penumpang lebih memilih menaiki angkot yang berada di badan Jalan Raya Cicalengka.
Ia menambahkan, akibat hal tersebut, ia bersama sopir angkutan lainnya terpaksa memarkirkan kendaraannya di jalan, karena alasan efisiensi waktu dan tempat.
"Terminal itu kecil terus sepi, penumpang jarang mau ke sini," katanya.
• Murid Korban Penganiayaan Guru SDnya di Garut Akan Diberi Trauma Healing
• Ini Dia Dua Menu yang Bisa Anda Kreasikan dengan Si Rempah Mahal, Saffron
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/angkot_20181025_131520.jpg)