Jumat, 10 April 2026

Masa Peralihan, Potensi Gerakan Tanah di Jabar Lebih Tinggi Dibanding Musim Kemarau

Masa peralihan, potensi terjadinya gerakan tanah atau longsor di wilayah Jawa Barat lebih tinggi dibanding musim kemarau.

Penulis: Yongky Yulius | Editor: Theofilus Richard
Tribun Jabar/Yongky Yulius
Kepala Bidang Mitigasi Gerakan Tanah Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, Agus Budianto 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Yongky Yulius

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Masa peralihan, potensi terjadinya gerakan tanah atau longsor di wilayah Jawa Barat lebih tinggi dibanding musim kemarau.

Kepala Bidang Mitigasi Gerakan Tanah Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, Agus Budianto, menjelaskan, hal itu disebabkan lantaran sebagian besar wilayah Jawa Barat tersusun atas batuan vulkanik.

"Karena Jawa Barat itu wilayah utamanya adalah (batuan) vulkanik. Itu merupakan hasil dari produk erupsi gunung api dan mengalami pelapukan. Biasanya, vulkanik itu tanahnya kalau kering mudah merekah dan pecah-pecah. Dari musim kemarau lalu berubah ekstrem terjadi hujan cukup tinggi, dia akan mudah untuk terjenuhkan dengan cepat," ujarnya kepada Tribun Jabar di kantornya, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Sabtu (29/9/2018).

Kendati demikian, dikatakan Agus, memang tidak seluruh wilayah Jawa Barat tersusun atas batuan vulkanik.

Wilayah yang tersusun atas batuan vulkanik misalnya adalah Kuningan, Sumedang, Bogor, Padalarang, dan Jatiliuhur.

"Daerah Kuningan itu, ada vulkaniknya itu juga karena ada sedimennya, maka sering terjadi longsor juga," katanya.

Berdasarkan peta prakiraan wilayah potensi terjadi gerakan tanah, PVMBG sendiri membagi wilayah darat Indonesia menjadi tiga zona kerentanan gerakan tanah, yakni tinggi (merah), menengah (kuning), dan rendah (hijau).

Jelang Pemilu 2019, Kapolsek Bojongloa Kidul Silaturahmi dengan 10 Ormas

Gunung Soputan di Minahasa Meletus, Statusnya kini Siaga III

Zona merah menunjukkan intensitas pergerakan tanah lebih tinggi dan makin intensif.

Agus mengatakan, pada peta yang diterbitkan untuk berlaku pada Oktober 2018, ada sekira 15 persen dari seluruh wilayah Jawa Barat yang termasuk pada zona merah kerentanan gerakan tanah.

Hal ini memang berbeda pada peta yang berlaku pada musim hujan, di mana hampir 70 persen wilayah Jabar berada dalam zona merah kerentanan gerakan tanah.

"Kalau kita lihat petanya, saat curah hujan tinggi atau musim hujan hampir 70 persen zona merah gerakan tanah ada di Jawa Barat. Nah, di musim kering hanya sekira 15 persen yang tinggi, yang menengah ada sekira 40 persen. Untuk masa peralihan bulan Oktober, petanya masih sama seperti musim kemarau September. Zona merahnya tersebar di Jawa Barat bagian tengah dan selatan," ujarnya.

Meskipun zona merah kerentanan gerakan tanah di Jawa Barat hanya meliputi 15 persen dari seluruh wilayahnya, pada masa peralihan ini, Agus mengimbau masyarakat tetap harus waspada.

Pasalnya, pada masa peralihan ini, hujan lebat disertai angin kencang dan petir yang terjadi tiba-tiba dalam waktu singkat, potensi terjadinya semakin tinggi.

Cuaca esktrem itu dapat mengubah zona yang tadinya menengah atau kuning menjadi zona merah.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved