Jumat, 10 April 2026

Dedi Mulyadi Ungkap Perbedaan Kultur Penikmat Wayang Golek dan Wayang Kulit

Budayawan Jawa Barat Dedi Mulyadi mengungkapkan perbedaan antara penikmat wayang.

Editor: Dedy Herdiana
ISTIMEWA
Dedi Mulyadi saat menghadiri Acara Festival Dalang Tingkat Nasional yang berlangsung di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Sabtu (22/9/2018). 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Budayawan Jawa Barat Dedi Mulyadi mengungkapkan perbedaan antara penikmat wayang.

Sesuai dengan rilis yang diterima Tribun Jabar, Sabtu (22/9/2018), mantan bupati Purwakarta ini mengatakan bahwa di tanah Jawa, terdapat dua jenis wayang sebagai buah kultur kehidupan masyarakat.

Kedua jenis wayang tersebut merupakan simbol dari karakter manusia dalam sebuah peradaban.

Jelang Persib Bandung Vs Persija Jakarta, Ezechiel N Douassel Cs Sering Tertawa Saat Sesi Latihan

Flashmob Tari Topeng Cirebon Meriahkan Peresmian Sekolah Tari Tradisional di Keraton Kasepuhan

Wayang golek berasal dari Jawa Barat dan wayang kulit yang berasal dari Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Penikmat kedua wayang tersebut memiliki kekhasan tersendiri.

Menurut Dedi, perbedaan itu terletak pada cara menikmatinya.

Masyarakat di Jawa Timur dan Jawa Tengah menikmati pertunjukan wayang kulit sampai pada aspek filosofisnya.

Dedi Mulyadi saat menghadiri Acara Festival Dalang Tingkat Nasional yang berlangsung di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Sabtu (22/9/2018).
Dedi Mulyadi saat menghadiri Acara Festival Dalang Tingkat Nasional yang berlangsung di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Sabtu (22/9/2018). (ISTIMEWA)

Mereka melakukan pemaknaan mendalam terhadap lakon yang tersaji.

“Fase dalam lakon itu mereka maknai. Ada kontemplasi terhadap nilai dan makna yang mereka dapatkan. Sehingga, pola perilaku masyarakat Jawa, kita ketahui sangat kultural. Orang sering bilang istilah Jawani. Karena itu, karakter Jawanya dijiwai,” kata Dedi di sela Acara Festival Dalang Tingkat Nasional yang berlangsung di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Sabtu (22/9/2018).

Sementara di Jawa Barat, lanjut Dedi, penikmat wayang golek hanya menunggu momen tawa atau keriuhan lakon.

Misalnya, saat terjadi perkelahian antar tokoh wayang atau saat tokoh Astrajingga/Cepot muncul mengocok perut.

“Kalau ramai, baru antusias. Kalau sedang cerita falsafah hidup, jatuhnya ngantuk,” ujarnya.

Atas dasar tersebut, Ketua Tim Pemenangan Jokowi-Ma’ruf di Jawa Barat itu meminta perubahan formula pertunjukan wayang.

Caranya, durasi pertunjukan diperpendek dan waktu mulainya acara dipercepat.

Biasanya, pertunjukan wayang golek di Jawa Barat dimulai pada Pukul 22.00 WIB sampai dengan Pukul 03.00 WIB dini hari.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved