Menyusuri Lorong Waktu di Selasar Rak Buku Perpustakaan Dinas Sejarah TNI AD di Bandung

Mayoritas buku-buku berbahasa asing merupakan warisan pemerintah kolonial. ‎Bahkan, buku terbitan tahun 1800-an dikoleksi di perpustakaan ini.

Penulis: Mega Nugraha | Editor: Ichsan
Tribunjabar/Mega Nugraha
Perpustakaan Dinas Sejarah TNI AD 

"Koleksi kami mencapai sekitar 60 ribu-an. Mayoritas buku sejarah dan kemiliteran," ujar Untoro. ‎Terdiri dari 48 ribu-an buku berbahasa asing warisan pemerintah kolonial dan sisanya buku berbahasa Indonesia.


Gedung perpustakaan terdiri dari beberapa ruangan. Ruangan depan menyimpan buku-buku berbahasa Indonesia, ruang baca yang dilengkapi meja, kursi dan rak buku-buku koleksi terbaru. ‎Lebih ke dalam, empat ruangan menyimpan buku-buku berbahasa Belanda, Jerman, Perancis dan Inggris.

Perpustakaan Dinas Sejarah TNI AD
Perpustakaan Dinas Sejarah TNI AD (Tribunjabar/Mega Nugraha)

Ensiklopedia berbahasa asing dan berjilid-jilid hampir selalu ada‎ di setiap ruangan dengan koleksi buku berbahasa Belanda, Perancis, Jerman dan Inggris itu. Termasuk kisah-kisah peperangan di Indonesia, seperti buku masyur De Java Orlog karangan PJF Louw atau Perang Jawa yang mengisahkan Perang Diponegoro hingga De Atjeh Orlog atau Perang Aceh berbahasa Belanda.


‎Rasa-rasanya, setiap selasar rak buku berbahasa asing di empat ruangan itu menyajikan lorong waktu untuk melihat Indonesia jauh sebelum merdeka dari sudut pandang pemerintah kolonial.

"Buku-buku sejarah di perpustakaan ini menurut saya paling lengkap, saya setuju, setiap lorong rak buku di sini seperti lorong waktu melihat Indonesia di masa lampau," ujar Deni (28), mahasiswa sejarah dari salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Kota Bandung.

Di salah satu dinding, terpajang slogan yang begitu kentara. "Jangan lupakan sejarah," begitu tulisan yang terpampang di dinding.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved