Batu Kecubung Jumbo Ini Nilainya Bisa Miliaran, Dipamerkan di Tempat Terbuka di Bandung
Nama internasional batu kecubung adalah Amethyst Crystal, jenis batu mineral yang masuk golongan quartz atau kuarsa.
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Anda sudah pernah berkunjung ke Museum Geologi di Bandung?
Jika belum, catatan singkat perjalanan ini barangkali bisa memantik minat Anda berkunjung ke museum.
Museum ini memiliki begitu banyak koleksi menarik terkait ilmu pengetahuan kegeologian dan sejarah kegunungapian.
Cara penyajian koleksi dan teknologi pendukung pamernya juga sudah modern.
Semua yang dipamerkan dilengkapi data dan informasi, meski kadang tak lengkap.
Status Luna Maya-Cut Tari Tetap Tersangka, Begini Putusan yang Disampaikan Hakim https://t.co/NxZg16XST5 via @tribunjabar
— Tribun Jabar (@tribunjabar) August 7, 2018
Nah, di antara ribuan koleksi Museum Geologi yang pengelolaannya ada di bawah Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral ini, ada satu yang istimewa.
Koleksi itu dipajang di tengah ruang pamer The World Rocks and Mineral di lantai satu.
Apa itu? Dia adalah batu kecubung super jumbo.
Tepatnya bongkahan batu yang di tubuhnya menempel fragmen-fragmen batu kecubung berwarna ungu muda hingga tua.
• Pelatih Persib Bandung Mulai Siapkan Taktik dan Strategi Lawan Mitra Kukar
Nama internasional batu kecubung adalah Amethyst Crystal, jenis batu mineral yang masuk golongan quartz atau kuarsa.
Di Indonesia dikenal dengan nama batu kecubung karena warnanya mirip dengan bunga tanaman kecubung yang berwarna ungu.
Dede Mulyana, seorang petugas di museum ini menyebut, berat bongkahan batu kecubung ini mencapai 800 kilogram atau 8 kuintal.
"Batu ini asalnya dari Solok, Sumatera Barat," kata Dede kepada Tribunjogja.com, Senin (6/8/2018).
Sayang, riwayat penemuan bongkahan batu kecubung ini tidak lengkap.
Hanya dijelaskan, batu ini diserahkan penemunya ke museum demi kepentingan ilmu pengetahuan.
Jika dirupiahkan, nilai batuan ini mungkin bisa ratusan juta hingga miliaran rupiah.
"Saya tidak tahu berapa nilai rupiah batu ini. Tentunya sangat mahal. Yang pasti menjadi tak ternilai demi ilmu pengetahuan," kata Dede.
• Valentino Rossi Puji Maverick Vinales Sebagai Pebalap yang Hebat, tapi. . .
Batu Amethyst yang bisa ditemukan di belahan dunia manapun ini berstruktur kristal heksagonal.
Ia terbentuk akibat pembekuan mineral Silika (Silikon Dioksida).
Sebagai mineral dengan proses pembentukan yang bisa jutaan tahun, batu kecubung memiliki tingkat kekerasan hingga 7 skala Mohs.
Ini kekerasan sedikit di bawah skala kekerasan intan dan berlian.
Warna ungu pada Amethyst ini memang keunggulan batu mineral ini, yang tidak dimiliki batu mulia lainnya.
Kelebihan ini menjadikan batu kecubung sebagai pilihan batu perhiasan kalangan bangsawan sejak zaman kuno.
• Zulkifli Hasan Temui Jokowi di Istana Presiden, Apa yang Dibicarakan?
Nama Amethyst sendiri muncul diadaptasi dari bahasa Yunani, yang bermakna "tidak beracun".
Sejak lama batu ini dipergunakan orang Yunani kuno sebagai jimat agar terhindar dari racun dan mabuk berat akibat minuman beralkohol tinggi.
Mitos itu berlanjut hingga zaman pertengahan dan menjelang abad modern.
Sejarah mencatat Santo Valentinus sebagai orang suci pelindung cinta kasih mengenakan cincin batu Amethyst berukir gambar cupid.
Sedangkan pelukis legendaris Leonardo Da Vinci menyebut batu kecubung bisa mempercepat kecerdasan serta menghilangkan pikiran jahat.
• Begini Detik-detik Pendukung Prabowo Subianto Longmarch Surabaya - Jakarta Melintasi Kota Cirebon
Pada masa lalu, batu kecubung ini nilainya sama dengan batu rubi, karena tingkat kelangkaannya yang tinggi.
Namun sejak penemuan besar-besaran tambang batu Amethyst di Brazil pada abad 19, berangsur-angsur nilainya turun.
Namun tetap saja batu kecubung ada di level tinggi golongan batu mulia.
Musem Geologi Bandung secara mendetail memamerkan aneka informasi terkait sejarah terbentuknya bumi.
Juga menjelaskan bagaimana proses alami geologi menghasilkan mineral-mineral yang bermanfaat bagi kehidupan umat manusia.
Baja, besi, perak, tembaga, aluminium dan logam-logam lain yang sangat dekat dengan kehidupan manusia, pada dasarnya berasal dari batu mineral.
Wujud bahan dasar ini berbeda dengan produk olahan akhirnya.
Di museum ini masyarakat bisa melihat bagaimana rupa dasar mineral tembaga, bijih besi, nikel, timah, bongkah-bongkah batu bara dan lain-lain.
Ternyata semuanya berasal dari batu mineral. Secara keilmuan, batuan merupakan material padat yang terbentuk secara alami yang terdiri atas satu atau beberapa jenis mineral.
Batuan yang menyusun permukaan bumi terdiri dari berbagai jenis, mulai dari batuan beku, batuan sedimen hingga batuan metamorf.
Masing-masing jenis batuan tersebut terbentuk dengan cara dan proses yang berbeda.
Seiring dengan terbentuknya seluruh jenis batuan tersebut, yang kemudian menyusun hampir seluruh bagian permukaan bumi, termasuk yang menjadi lantai dasar lautan, berjalan juga proses siklus batuan.
Siklus batuan merupakan suatu proses pembentukan, penghancuran, dan pembentukan kembali ketiga jenis batuan tersebut.
Proses geologi ini bisa berlangsung ratusan ribu, jutaan, hingga miliaran tahun.
Mineral yang terperangkap dalam batuan lain, bisa berproses menjadi jenis batuan yang istimewa.
Contohnya antara lain batu kalsedon, yang banyak ditemukan di Pacitan.
Terkait bongkahan batu kecubung Museum Geologi, menurut Dede Mulyana, koleksi ini memang paling memantik decak kagum pengunjung.
Selain bobotnya yang istimewa, keindahan batu-batu hexagonal yang masih menempel di bongkahan batu lain ini juga luar biasa.
"Sengaja ditampilkan terbuka begitu biar pengunjung bisa menyentuh dan merasakan langsung keindahan batu Amethyst dari Solok ini," katanya.
Apakah tidak rawan pencurian?
"Ya tentu saja, tapi siapa kuat angkat bongkahan delapan kuintal ini coba? Ada yang coba mempreteli, tapi sulit karena batu kecubung itu menempel kuat dan sangat keras," lanjutnya.
Tentu saja selain bobot yang rasanya mustahil bongkahan itu digondol maling, pengelola museum menempatkan kamera pengawas yang menyorot langsung ke tengah ruang pamer.
Semua gerak-gerik pengunjung terekam jelas dan bisa dipantau langsung.
Jadi, jangan bertindak aneh-aneh di ruang pamer batu kecubung ini.
Jika hanya foto-foto, cukup leluasa boleh dilakukan.
Museum Geologi di Bandung ini ada sejak 16 Mei 1929, saat itu diinisiasi para geolog dari negeri Belanda.
Bandung pada masa itu memang jadi pusat jawatan geologi, dan bertahan hingga saat ini.
Gedung museumnya berlokasi di Jalan Diponegoro No 57, Cihaur Geulis, Cibeunying Kaler, Kota Bandung.
Tidak jauh dari Gedung Sate, pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat, di sebelah timur lapangan Gasibu.
Kelahiran Museum Geologi berawal dari aktivitas kolonial Belanda yang mengeksplorasi tambang mineral di Nusantara. Belanda pada 1850 membentuk Dienst van het Mijnwezen, semacam badan khusus menangani kegeologian.
Pada 1922, lembaga ini berganti menjadi Dienst van den Mijnbouw. Tugasnya melakukan penyelidikan geologi serta sumberdaya mineral.
Gedung tersebut awalnya bernama Geologisch Laboratorium yang kemudian juga disebut Geologisch Museum.
Gedung Geologisch Laboratorium dirancang dengan gaya Art Deco oleh arsitek Ir Menalda van Schouwenburg, dan dibangun selama 11 bulan dengan 300 pekerja serta menghabiskan dana sebesar 400 Gulden.
Pembangunannya dimulai pada pertengahan 1928 dan diresmikan pada tanggal 16 Mei 1929.
Peresmian tersebut bertepatan dengan penyelenggaraan Kongres Ilmu Pengetahuan Pasifik ke-4 (Fourth Pacific Science Congress) yang diselenggarakan di Bandung pada 18-24 Mei 1929.
Baca: Baru Tiba Hari Ini, MiG-17 Jadi Koleksi Terbaru Museum Dirgantara Yogyakarta
Museum Geologi Bandung kini menjadi satu-satunya museum yang secara lengkap menampilkan hal ihwal tentang kegeologian, kegunungapian, dan termasuk sebagian kecil sejarah purba.
Sebuah replika fosil gajah purba dari Blora, secara menyolok mata ditempatkan di lobi gedung museum ini.
Fosil gajah purba Blora yang 85 persen masih dan bisa direkonstruksi, ditemukan dan diekskavasi oleh tim peneliti Badan Geologi beberapa tahun lalu.
Informasi terakhir dari perjalanan singkat ini, berapa sih tiket masuk museum?
Hanya Rp 3.000 saja per orang, dan pengunjung bisa berpuas-puas menyaksikan betapa istimewanya bumi yang kita tinggali dan alam semesta ini.
Yuk, kunjungi museum ini! (Tribunjogja.com/xna)
Artikel ini telah tayang di Tribunjogja.com dengan judul Batu Kecubung Ini Benar-benar Jumbo, Bobotnya Mencapai 8 Kuintal
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/batu-kecubung-yang-dipamerkan-di-museum-geologi_20180807_193737.jpg)