Berkenalan dengan Yan Yan Sunarya, 'Doktor Batik Sunda' dari ITB
Kecintaannya pada batik, khususnya batik Sunda lah yang membuat dia mengenalkan dirinya sendiri sebagai doktor batik Sunda pertama di dunia
Penulis: Yongky Yulius | Editor: Seli Andina Miranti
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Yongky Yulius
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Dosen Kriya Institut Teknologi Bandung (ITB), Yan Yan Sunarya, punya julukan unik, yaitu doktor batik Sunda.
Julukan itu tak sembarangan disematkan padanya.
Kecintaannya pada batik, khususnya batik Sunda lah yang membuat dia mengenalkan dirinya sendiri sebagai doktor batik Sunda pertama di dunia pada tahun 2014.
Jangan Dulu Puas Matikan Last Seen dan Centang Biru WhatsApp, Kamu Bisa Rugi Besar https://t.co/KBIVdoWdPo via @tribunjabar
— Tribun Jabar (@tribunjabar) July 13, 2018
Hasilnya, pada tahun 2016 dia diakui sebagai "The First Doctor in Sundanese's Batik" dalam @KoreanUpdates!.
Penelitiannya yang berjudul “Strategi Adaptasi Visual pada Ragam Hias Batik Sunda” lahir berkat kesadarannya terhadap tanah kelahiran, khususnya untuk mendalami khazanah batik Sunda.
Ketua Program Studi S-3 Ilmu Seni Rupa dan Desain ITB ini mengaku sengaja mempopulerkan diri sebagai Doktor Batik Sunda.
Alasannya, dikatakannya, tidak banyak orang tahu bahwa di Sunda juga mempunyai corak batik khas yang dapat diteliti secara mendalam.
• Berakhir Pekan ke Pantai? Waspada, Perairan Jabar Diintai Gelombang Tinggi
Kekhasan batik Sunda muncul dari karakter orang Sunda yang humoris dan ceria dalam bentuk warna, corak, motif, komposisi, penamaan, dan sebagainya.
Saat lulus S-1 di FSRD ITB, penelitian yang dilakukannya adalah mengenai fesyen modern.
Kemudian, lanjut S-2 di fakultas yang sama juga mengenai fesyen di era posmodern.
Namun saat S-3, penelitiannya disarankan oleh promotor agar tidak lagi mengangkat kembali desain modern.
“Saya diamanatkan untuk mengangkat soal Batik Sunda. Dan dari situlah saya tertarik untuk mempopulerkan Batik Sunda,” kata Yan Yan saat berbincang di Gedung Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, Jalan Ganesa, Selasa (10/7/2018), dikutip dari keterangan tertulis yang diterima Tribun Jbar.
Lebih lanjut dia menjelaskan, kurikulum mengenai kearifan lokal di bidang batik perlu dimasukkan ke dunia pendidikan formal.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/yanyan-sunarya_20180714_104532.jpg)