Ramadan Berkah

FEATURE: Berkunjung ke Masjid Tertua di Manonjaya Tasikmalaya

SELAIN memiliki potensi wisata alam yang banyak, di Kabupaten Tasikmalaya juga terdapat beberapa...

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Isep Heri

TRIBUNJABAR.ID, TASIKMALAYA -  Selain memiliki potensi wisata alam yang banyak, di Kabupaten Tasikmalaya juga terdapat beberapa destinasi wisata yang kental nuansa sejarah serta kental nilai religius.

Mesjid Agung Manonjaya satu di antaranya, yang menawarkan nuansa wisata religi yang kaya akan nilai historis.

Bagaimana tidak? mesjid tersebut merupakan mesjid tertua yang berada di Tasikmalaya.

Menurut Zamzam (36) yang merupakan pengurus mesjid tersebut mesjid yang berlokasi di dekat Alun-Alun Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya, didirikan pada sekitar 1832 silam.

Kala itu, Kecamatan Manonjaya sempat menjadi pusat pemerintahan Tasikmalaya yang sebelumnya bernama Kabupaten Sukapura dibawah kepemimpinan Wiradadaha VIII atau Raden Temenggung Danuningrat.

Di area yang luasnya sekira 1,5 hektare bangunan mesjid berdiri kokoh bernuansakan arsitektur neoklasik pencampuran nuansa Eropa, Jawa, serta Sunda.

Nuansa arsitektur tersebut dapat kita lihat dari elemen bangunan yang ada, mulai dari saat kita menginjakan kaki di gerbang utama, kemudian menuju serambi, dan tentunya ruangan utama salat.

Saat memasuki serambi kita akan disuguhkan pemandangan cantik serambi dengan beberapa tiang berukuran jumbo yamg jumlahnya puluhan.

Tiang yang terdiri dari material tembok tersebut ukurannya nampak berbeda beda, kira-kira berdiameter 50 centimeter dan sebagiannya lagi berdiameter 80 centimeter.

Berdasarkan keterangan Zamzam jumlah tiang yang berada disana berjumlah 63 tiang.

Di beranda depan kita juga akan melihat dua menara kokoh bernuansa Eropa yang mengadap langsung ke Alun-alun.

Dua menara tersebut dahulu kala diperuntukan bagi muadzin mengumandangkan panggilan salat kepada masyarakat.

Atap mesjid bernuansa atap bangunan Jawa Hindu masa lalu pun menjadi kekhasan mesjid ini, jika sebagian mesjid memilih kubah sebagai atap bangunan, namun disini atap berupa mustaka atau atap tumpang tiga.

"Filosopi pada saat pembangunan atap tersebut, ialah tiga dasar tauhid yakni Iman, Islam, Ihsan," jelas Zam-zam kepada Tribun Jabar, Jumat (1/6/2018). (*)

Penulis: Isep Heri Herdiansah
Editor: Dicky Fadiar Djuhud
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved