Kisah Pelajar di Lereng Merapi, Menembus Pekat Hujan Abu dan Pasir demi Bisa Ujian Akhir Semester

Keesokan harinya Dila harus berangkat ke sekolah mengendarai sepeda motor melintasi lereng Gunung Merapi.

ANTARA FOTO/ANIS EFIZUDIN/Tribunnews
Siswa mengikuti kegiatan belajar mengajar di dalam kelas dengan mengenakan masker di SD Negeri Banyudono, Dukun, Magelang, Jawa Tengah, Rabu (23/5/2018). Gunung Merapi kembali mengalami letusan freatik pada Rabu pukul 03.31 berdurasi empat menit dengan ketinggian 2.000 meter yang mengakibatkan hujan abu di sejumlah wilayah bagian barat Gunung Merapi. Warga yang terdampak abu vulkanis dihimbau beraktivitas dengan menggunakan masker. 

Dila merasa senang karena sekolahnya membuat kebijakan untuk menginapkan siswa yang tinggal di KRB III di asrama sekolah selama ujian akhir semester.

Kebijakan ini diambil supaya mereka bisa fokus belajar menghadapi ujian yang dilaksanakan sampai Kamis (31/5/2019).

“Alhamdulillah senang, bisa tidur di sekolah, bisa belajar dengan tenang,” ungkap Dila.

Hal sama dirasakan Faisal Tri Utomo (14). Remaja asal Dusun Gowokringin, Desa Sengi, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, itu masih ingat betul ketika erupsi Merapi 2010.

Baca: Gawat! Penelitian Terbaru Ungkapkan Kalau Kandungan Gizi Beras Semakin Menurun

Dia dan seluruh keluarganya merasakan kepanikan saat Gunung Merapi bergemuruh lalu mengeluarkan awan panas.

Dia harus berlarian mengungsi ke lokasi aman.

“Ingat sekali waktu erupsi tahun 2010, takut kalau kali ini terjadi lagi,” ujarnya.

Humas SMP Muhammadiyah 2 Sawanga, Ahmad Taufik, menjelaskan ada 29 siswa yang menginap di asrama sekolah.

Mereka berasal dari KRB III meliputi Tlogolele, Karang dan Stabelan, Kabupaten Boyolali serta Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang.


“Kami meminta mereka untuk sementara menginap di sekolah saja, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan karena aktivitas Gunung Merapi sedang meningkat,” ujar Taufik.

Ia merasa prihatin karena para siswanya itu tidak bisa belajar dengan tenang, padahal saat ini sedang berlangsung ujian akhir semester.

Tidak hanya itu, akses dari rumah mereka ke sekolah juga berisiko terdampak abu atau material gunung Merapi.

“Ada yang curhat kalau tidak bisa belajar karena takut, jadi kami putuskan supaya mereka bermalam di sekolah. Biar mereka fokus, tidak beban, merasa aman,” jelasnya.

Baca: Ada Rexy Mainaky di Balik Kesuksesan Thailand di Piala Uber

Taufik berujar selama anak-anak menginap sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab pihak sekolah, mulai dari pendampingan belajar sampai kebutuhan logistik.

Halaman
123
Sumber: Kompas
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved