Jatuh Bangun Lima Kali di Bibir Jurang, Warsini Lari Tanpa Menengok Puncak Merapi
Situasi pagi itu sangat mencekam, panik, dan tangis terdengar bersahut-sahutan.
Candaan itu ternyata jadi kenyataan.
Keduanya mengalami peristiwa yang sangat menyeramkan tak jauh dari puncak Merapi.
Bahkan nyaris merenggut nyawa mereka.
Warsini mengaku saat lari turun tak pernah lagi menengok ke belakang.
Ia benar-benar ketakutan jika gulungan asap dari Merapi memburu dan melibas mereka.
"Takut kaya kejadian 2010," timpal Wartini, sang adik.
Saat berbincang-bincang dengan Tribunjogja.com di dekat kandang ternak keluarga Wardi, mereka masih menyuguhkan wedang teh dan krupuk beras di tengah suasana yang panik setelah erupsi.
Keluarga itu memiliki empat ekor sapi perah dan simetal (pedaging). Warsini dan Wartini jadi tulang punggung keluarga tiap pagi, yaitu mencari rumput ke lereng Merapi.
Suami-suami mereka ikut buruh padat karya atau kadang mencari pasir di Kali Gendol.
"Biasanya selesai merumput sekitar pukul 8," kata Warsini.
Sebelum tugas mereka tunai, ternyata pagi tadi mereka dipaksa lari lintang pukang mencari selamat saat Merapi "batuk" memuntahkan material vulkanik.
Pada 2010, keluarga itu kehilangan semua harta benda. Rumah mereka di Kalitengah Lor ludes tersapu awan panas.
Mereka akhirnya kembali membangun rumah di atas puing-puing, di Kalitengah Lor. Tawaran pindah ke hunian tetap di lokasi baru, ditolak sebagian besar warga.
Waktu itu mereka menolak karena takut kehilangan tanah temoat tumpuan hidup mereka jika pindah ke permukiman relokasi.
Peristiwa 2010 masih meninggalkan memori kuat yang membuat trauma. "Tadi gak ada sirine bunyi atau pengumunan mengungsi," kata Wardi.