Kemenkes dan DPR RI Berharap Jamu Jadi Alternatif Pengobatan Mayarakat, Tekan Pemakaian Obat Kimia
Antusiasme masyarakat terhadap jamu tidak sebesar dulu. Mungkin ini berequivalen dengan mudahnya obat generik di Puskesmas
Penulis: Mumu Mujahidin | Editor: Ichsan
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Mumu Mujahidin
TRIBUNJABAR.ID, BALEENDAH - Angka penyembuhan (Kuratif), baik di rumah sakit maupun di Puskesmas terus meningkat, Kementerian Kesehatan dan Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI pun mensosialisasikan pelayanan kesehatan tradisional di Kelurahan Baleendah, Kabupaten Bandung, Selasa (8/5/2018). Pengobatan dengan ramuan jamu tradisional menjadi alternatif untuk menekan angka tersebut.
Anggota Komisi IX DPR RI, Dede Yusuf, selaku pembicara dalam acara tersebut menuturkan, sesuai dengan mekanisme penganggaran pihaknya telah memberikan anggaran untuk Kementerian Kesehatan hampir sekitar Rp 70 triliun. Di dalam anggaran tersebut pihaknya lebih banyak mendorong upaya preventif promotif kesehatan kepada masyarakat.
"Karena kalau kita larikan ke kuratif maka kuratif kita ini sudah sangat tinggi sekali. Pengobatan di rumah sakit, pengobatan di klinik dan sebagainya. Nah preventif promotif ini didorong di Puskesmas, kesehatan masyarakat dan lingkungan serta di promkes (promosi kesehatan)," tuturnya di Baleendah tadi siang.
Baca: Kali Ini Persib Bandung Gelar Latihan di Lapangan Progresif, Baru Mulai Latihan Turun Hujan Deras
Dikatakan Dede, berbagai metode dilakukannya agar pemahaman masyarakat tentang bagaimana swamedikasi atau mengobati diri sendiri bisa dilakukan masyarakat secara mandiri. Baik itu berupa pengobatan yang sifatnya OTC (over the counter) maupun pengobatan yang bisa dibeli bebas, atau mengobatan menggunakan obat herbal berupa jamu-jamuan.
Inilah Empat Persiapan Diri Menyambut Bulan Ramadan, Sudahkah Anda Melakukannya ? https://t.co/xohWLlyPRo via @tribunjabar
— Tribun Jabar (@tribunjabar) May 8, 2018
"Antusiasme masyarakat terhadap jamu tidak sebesar dulu. Mungkin ini berequivalen dengan mudahnya obat generik di Puskesmas. Kalau dulu orang cenderung lebih memilih jamu dibanding obat," katanya.
Selain itu, kata dia, saat ini banyak jamu yang dijual tidak menggunakan bahan alami secara 100 persen, tapi menggunakan bahan kimia sebagai campurannya. Padahal menurutnya di negara-negara berkembang seperti China, negara-negara di timur tengah bahkan di Amerika sudah kembali ke pengobatan holistik, menggunakan obat-obatan berbahan alami atau herbal.
"Dunia sudah mengenalkan herbal, hanya memang jamu masih terkesan tradisional banget, belum dikemas secara modern. Itu yang menyebabkan orang-orang tidak terlalu percaya. Ini menjadi tugas kita untuk mendorong hal tersebut," katanya.
Serba-serbi SBMPTN 2018: Pakai Sistem Baru, Ada Pengelompokan Soal Sulit dan Mudah https://t.co/WDHLQRh7CH via @tribunjabar
— Tribun Jabar (@tribunjabar) May 8, 2018
Bahkan kata Dede, tidak hanya selain harus beralih ke pengobatan alami, industri jamu juga harus dipertahankan. Karena menurutnya saat ini banyak perusahaan jamu di Indonesia yang gulung tikar karena tidak mampu bersaing dengan obat-obatan kimia.
Sementara Kedua Dewan Penasehat Imah Rancage (Rumah Aspirasi Dede Yusuf), Syaiful Bahri, berharap ke depan di setiap rumah-rumah masyarakat Kabupaten Bandung minimal ada satu tanaman obat yang bisa menyembuhkan penyakit ringan yang ada di masyarakat.
"Jadi mereka bisa mengolah sendiri, bisa memberikan dan merawat diri sendiri dengan obat-obatan yang ada rumah. Obat (jamu) ini bisa dijadikan pengganti obat kimia yang beredar di tengah masyarakat sehingga tidak tabu lagi untuk minum jamu," katanya.