Satelit Tiangong 1 Jatuh di Tengah Samudera Pasifik, Sebagian Terbakar Saat Sentuh Atmosfer
Titik jatuhnya juga sudah dikonfirmasi oleh NORAD Amerika tapi memang bukti serpihan-serpihan
Penulis: Ery Chandra | Editor: Tarsisius Sutomonaio
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Ery Chandra
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG- Selama beberapa bulan terakhir, sejumlah astronom dunia terus memerhatikan pergerakan jatuhnya stasiun luar angkasa milik Tiongkok, Tiangong 1, ke bumi.
Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) sempat memprediksi satelit berbobot 8,5 ton tersebut jatuh sekitar 1 April 2018.
Prediksi LAPAN meleset sehari lantaran Tiangong 1 jatuh ke bumi pada Senin (2/4/2018).
Peneliti Astronomi dan Astrofisika, Pusat Sains Antariksa, LAPAN, Tiar Dani, mengatakan sebelum jatuh, pukul 00:50 WIB, Tiangong 1 melewati kawasan Samudera Atlantik, Afrika, Asia, dan berakhir di Samudra Pasifik.
Persib Bandung era Mario Gomez Catat ''Start'' Terburuk Selama 3 Musim Terakhir https://t.co/AneXjqLHzb via @tribunjabar
— Tribun Jabar (@tribunjabar) April 2, 2018
"Sebelum re-entry di ketinggian 120 km di atas Samudera Pasifik bagian selatan, Tiangong 1 sempat melewati samudera Atlantik, Benua Afrika, dan Asia. (Tiangong) Jatuh pada pukul 07:16 WIB di atas Samudera Pasifik," ujar Tiar, saat dihubungi Tribun Jabar melalui ponselnya, Senin (2/4/2018).
Menurut Tiar, karena jatuhnya satelit tersebut di samudera, sisa-sisa serpihan Tiangong 1 pun jatuh ke laut dan tenggelam disana.
"Titik jatuhnya juga sudah dikonfirmasi oleh NORAD Amerika tapi memang bukti serpihan-serpihan hingga detik ini belum ada," kata Tiar.
Baca: Heboh Fernando Soler Tercantum Sebagai Interpreter, Bukan Asisten Pelatih, Manajamen Akan Cek Soler
Dikutip dari BBC Indonesia, sebagian besar wahana itu hancur saat memasuki atmosfer bumi pada pukul 08:16 GMT. Hal itu berdasarkan cuitan astronom Jonathan McDowell di akun Twitter.
Sebelumnya disebutkan, sebagian puing Tiangong 1 bisa juga jatuh ke wilayah Indonesia.
Satelit tersebut memasuki orbitnya pada 2011 dan lima tahun kemudian mengakhiri misinya.
Sebagian puing wahana itu terbakar saat menyentuh atmosfer namun beberapa puingnya bertahan dan jatuh ke permukaan bumi.
Sebelum, melalui akun media sosial, Kantor Ruang Angkasa Berawak Cina mengatakan jatuhnya pesawat ruang angkasa "Tak akan menabrak bumi dengan keras seperti yang terjadi dalam film fiksi ilmiah namun berubah menjadi hujan meteor yang luar biasa". (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/ilustrasi-satelit-tiangong-1-jatuh-ke-bumi_20180328_150436.jpg)