Kamis, 30 April 2026

Kisah Inspiratif

Kisah Amal Rasyid, Mantan Pekerja Pabrik yang Kini Sukses Jadi Pengusaha Dodol

Bestory yang terdiri dua kata yakni best dan story ini memiliki makna tersendiri, yakni sejarah terbaik

Tayang:
Editor: Kisdiantoro
Tribun Jabar/Hakim Baihaqi
Amal Rasyid (43), pemilik dodol Bestory di Jalan Raya Garut - Bayongbong, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut. 

Laporan wartawan Tribun Jabar, Hakim Baihaqi

TRIBUNJABAR.ID, GARUT - Ada pepatah menyebutkan "berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian; bersakit-sakit dulu, bersenang-senang kemudian."

Pepatah itu memang benar dirasakan oleh Amal Rasyid (43), warga Kelurahan Muarasanding, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut.

Pria kelahiran Garut 9 November 1975 ini, sudah mendulang kusuksesannya dari menjual penganan khas kota intan, yakni menjadi pengusaha dodol yang diberi nama Bestory.

Bestory yang terdiri dua kata yakni best dan story ini memiliki makna tersendiri, yakni sejarah terbaik, hal tersebut yang terlintas dalam benaknya, lalu dijadikan sebuah nama produk.

Sebelum mampu meraup keuntungan dari makanan khas ini, Amal bercerita kalau di akhir tahun 90-an ia sempat terpuruk saat menjadi seorang pekerja di salah satu perusahaan pembuat dodol di Kabupaten Garut.

Di perusahaan dodol besar tersebut, Amal merasakan kejenuhan yang sangat membuat dirinya begitu tersiksa, karena dianggapnya terlalu monoton dan melelahkan.


Dari kejenuhannya tersebut, di 2003, Amal memutuskan diri untuk mengundurkan diri dari pekerjaanya tersebut, lalu memutuskan untuk merintis usahanya tersebut.

Memiliki modal yang cukup minim, diawal usahanya tersebut, Amal hanya mampu memproduksi dodol rasa original paling banyak hanya 40 kilogram saja.

"40 kilogram sudah paling banyak, sudah tidak mampu kalau lebih dari segitu," kata Amal kepada Tribun Jabar, di lokasi penjualan dodol Bestory di Jalan Raya Garut Bayongbong, Kabupaten Garut, Jum'at (30/3/2018).

Pada awal-awal usahanya tersebut, Amal bercerita, ia hanya memiliki alat sederhana dan dibantu oleh orang-orang terdekat.

"Sangat tradisional dan memakan waktu cukup lama," kata Amal.

Bertahan dengan keadaan tersebut, di 2005, amal mendaftarkan produk buatannya tersebut ke Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Garut dan mendapatkan sertifikasi halal dari Majelis Ulam Indonesia (MUI).

"Langkah awal sudah ditempuh dan produk saya sudah terdaftar," katanya.

Baca: Persib Bandung Tanpa Mario Gomez saat Bertanding Melawan Sriwijaya

Setelah mengantungi izin dari dinas terkait, produknya tersebut pun dilirik oleh koperasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk melebarkan sayap usaha kudapannya itu.

"Dibantu juga pemasarannya oleh koperasi," ujarnya.

Amal mengatakan, hingga saat ini ia masih tidak percaya jika usaha yang ia rintis tersebut dapat berbuah manis dan mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar.

"Dahulu saya kerja di perusahaan orang, sekarang sudah punya 20 pekerja," kata Amal.

Berbicara masalah keuntungan, Amal menyebutkan, dari usahanya ini ia mampu meraup keuntungan bersih hingga Rp 200 juta perbulannya.

"Kalau saya masih jadi karyawan, mungkin tidak bisa kaya gini," ujarnya.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved