FKPT Jabar Perkuat Kapasitas Penyuluh Agama Hadapi Radikalisme

visi misi FKPT, yaitu mencegah tumbuhnya radikalisme, terorisme, dan separatisme, dengan berbasis pada nilai-nilai kearifan lokal

FKPT Jabar Perkuat Kapasitas Penyuluh Agama Hadapi Radikalisme
TRIBUN JABAR/MACHMUD MUBAROK
Ketua FKPT Jabar, Yaya Sunarya SH MM. 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Barat akan menggelar kegiatan Penguatan Kapasitas Penyuluh Agama Dalam Menghadapi Radikalisme Melalui FKPT Jabar di Resort Hotel Danau Dariza Cipanas, Garut, Rabu (28/3). Kegiatan ini merupakan program Badan Nasional Penanggulangan Terorisme yang dilakukan oleh FKPT.

Menurut Ketua FKPT Jabar, Yaya Sunarya SH MM, kegiatan ini merupakan upaya yang dilakukan pemerintah untuk meminimalisasi tiga isu utama, yaitu radikalisme, terorisme, dan separatisme.

"Ini semacam seminar atau semiloka untuk memperkuat kapasitas para penyuluh agama di Jawa Barat. Mereka yang akan jadi ujung tombak dari sisi keagamaan untuk melawan pengaruh radikalisme di masyarakat," ujar Yaya saat ditemui Tribun Jabar, Senin (26/3) siang.

Yaya mengatakan, peserta kegiatan ini adalah 100 orang penyuluh agama dari beberapa kota kabupaten di Jabar. Sejumlah kalangan pun, lanjut Yaya, diundang untuk menghadiri pembukaan, seperti Kakanwil Kemenag Jabar, pjs Bupati Garut, Danrem Tarumanegara, Dandim Garut, dan Kapolres Garut.

"Memang diharapkan penyuluh agama yang ikut bukan hanya dari Islam, tapi dari agama lain, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, termasuk Konghucu. Minimal kalau kita melatih 100 orang penyuluh agama, bisa tersebar lebih luas ke masyarakat," kata Yaya.

Substansi penyelenggaraan penguatan kapasitas penyuluh agama ini lanjut Yaya, sesuai dengan visi misi FKPT, yaitu mencegah tumbuhnya radikalisme, terorisme, dan separatisme,  dengan berbasis pada nilai-nilai kearifan lokal.

"Orang Jabar itu someah hade ka semah. Karena itulah, filosofi silih asah silih asuh silih asih silih wangi itu menjadi sangat relevan dalam mencegah tumbuhnya paham-paham radikal, terorisme, dan separatis. Apalagi jelang pilpres dan pilkada serentak saat ini, isu-isu SARA tidak muncul di Jabar karena falsafah tadi," ungkap Yaya.

Sejauh pemetaan pihaknya, Yaya mengatakan, tidak ada daerah rawan paham-paham radikal di Jabar. Menurutnya, tidak ada yang fatal, karena masih bisa digeunggeureuhkeun, dibawa kepada hal yang lebih baik.

"Memang pelaku teror itu banyak orang Jabar, tapi dia tidak beroperasi di Jabar. Tentu itu di luar pengetahuan kami. Insya Allah dengan kegiatan semacam ini, kami bisa mendeteksi lebih dini kemunculan ancaman-ancaman atau paham-paham radikal, terorisme, dan separatisme di Jabar," jelas Yaya. (*)

Penulis: Machmud Mubarok
Editor: Machmud Mubarok
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved