Menteri Perdagangan Yakin Stok dan Harga Kebutuhan Pokok Stabil Hingga Jelang Puasa
pihaknya sudah berkoordinasi dengan Bulog untuk melepas beras ke pasaran menjelang Ramadan.
Penulis: Muhamad Nandri Prilatama | Editor: Tarsisius Sutomonaio
Laporan Wartawan Tribun Jabar, M Syarif Abdussalam
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG- Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita, mengaku telah mengantisipasi kenaikan harga pangan atau kebutuhan pokok menjelang Ramadan yang tinggal dua bulan lagi.
Ia yakin harga kebutuhan pokok akan terus stabil sampai Idulfitri 1939 H.
"Sekarang aman dan harga ini tidak lagi ada gejolak. Itu sudah hal yang positif dan sudah tren penurunan. Sekarang bersyukur penurunan tidak terjadi drastis tetapi secara gradual," kata Enggar seusai menghadiri rapat koordinasi kebijakan perdagangan menjelang Ramadan dan Idulfitri 1439 H di El Royale Hotel, Jumat (23/3/2018).
Dengan pengaturan kebijakan perdagangan ini, kata Enggartiasto Lukita, pada awal April 2018 pihaknya sudah bisa memproyeksikan kebutuhan harga pokok pada awal Ramadan.
7 Pemain Muda yang Bakal Jadi Rising Star di Liga 1, Ada yang Siap Gantikan Sosok Febri Hariyadi https://t.co/npbApE2MCM via @tribunjabar
— Tribun Jabar (@tribunjabar) March 23, 2018
Dengan demikian, antisipasi dapat dilakukan sedini mungkin.
Menjelang pertengahan Mei atau awal puasa itu, katanya, semua harga kebutuhan pokok dapat terkendali sesuai HET.
Untuk mengendalikan harga beras, imbuhnya, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Bulog untuk melepas beras ke pasaran menjelang Ramadan.
"Dengan stok yang ada, panen raya yang segera kita alami, dan ini semua jadi cadangan baru, jangan ada kekhawatiran. Pengusaha dan pedagang lepaskan barang dengan harga rendah. Sebentar lagi kita gelontorkan beras," katanya.
Enggartiasto Lukita mengatakan isu soal impor beras jangan sampai menjadi polemik. Menurutnya, akan ada impor beras sebanyak 500 ribu ton dan baru 281 ribu ton yang masuk ke Indonesia.
"Tugas kita menyediakan stok beras dengan prioritas pengadaan dari dalam negeri. Berapapun panen, sesuai Inpers 5, akan terserap. Petani tidak akan rugi, yang terpotong adalah tengkulak," katanya.
Ia mengatakan jangan terlalu alergi dengan upaya impor. Negara seperti Thailand dan Vietnam, imbuhnya, mampu mengekspor beras dan jagung, sekaligus mengimpor beras dan jagung tertentu yang dibutuhkan.
Indonesia pun mengekspor jagung dan mengimpor jenis jagung tertentu untuk kebutuhan industri. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/menteri-perdagangan-ri-enggartiasto-lukita-saat-tiba-di-pasar-pagi_20180227_194702.jpg)