Nyepi, Bukan Hari Raya tapi Hari Suci
Maka tidak heran, saat Nyepi ada umat kita yang menonjolkan keinginan indrawinya. Seperti berjudi, salah satunya meceki.
Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda
TRIBUNJABAR.ID, DENPASAR - NYEPI merupakan sebuah hari suci, bukan hari raya.
Sebab kalau kita merujuk ke ‘hari raya’, tentunya di sana ada konsep pesta atau pemenuhan kesenangan indrawi.
Maka tidak heran, saat Nyepi ada umat kita yang menonjolkan keinginan indrawinya. Seperti berjudi, salah satunya meceki.
Selain menodai hari suci, tindakan ini juga melanggar hukum.
Selain itu, umat yang mementingkan indrawinya, biasanya akan keluar rumah saat Nyepi.
Baca: Inilah Foto-foto Yofina Pradani, Calon Adik Ipar Shireen Sungkar yang Cantiknya Bukan Main
Baca: Pemain Asing Terbaru Persib Bandung Akan Datang Nanti Malam atau Besok, Siapa Dia?
Mereka malah melakukan aktivitas di jalan raya, seperti bersepeda hingga makan-makan di tengah jalan raya seperti sedang piknik di kebun raya.
Ada pula umat kita yang justru mencorat-coret jalan raya dan berselfie di tengah jalan.
Tentunya hal seperti ini sangat mencoreng hari suci kita.
Sebab di satu sisi kita melarang umat lain yang tinggal di Bali untuk tidak melakukan aktivitas.
Sementara kita malah hura-hura. Kalau begini, justru umat lain yang mendapatkan pahala Nyepi.
Bukan umat kita, karena mereka justru menodai Nyepi.
Hari suci Nyepi, ada konsep Catur Bratha, yang terdiri dari amati gni (tidak menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian) dan amati lelanguan (tidak berpesta).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/nyepi-sebagai-cambuk-spiritual_20170327_231827.jpg)