Menengok Proses Pembuatan Teh Kejek Asli Garut
Pengolahan teh yang satu-satunya masih mempertahankan cara tradisional, yakni produksi Teh Kejek yang dijalani oleh Oos Affandi (54)
Penulis: Hakim Baihaqi | Editor: Isal Mawardi
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hakim Baihaqi
TRIBUNJABAR.ID, GARUT - Di tengah perubahan zaman yang semakin modern, warga di Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut, tetap mempertahankan proses pembuatan teh secara tradisional.
Pengolahan teh yang satu-satunya masih mempertahankan cara tradisional, yakni produksi Teh Kejek yang dijalani oleh Oos Affandi (54), warga Desa Cigedug, Kecamatan Cigedug.
Telah ada sejak 1900 awal, Kejek dalam bahasa sunda memiliki arti yakni diinjak. Hal tersebut dikarenakan proses pengolahan teh ini menggunakan teknik injak.
Sebelum memasuki tahap kejek, teh basah yang baru dipetik itu terlebih dahulu disangrai menggunakan wajan berukuran besar, di atas tungku api atau anglo.
Setelah 20 menit proses sangrai , kemudian teh tersebut dipindahkan ke tempat yang menyerupai parit dan selanjutnya dilakukan proses kejek.
Proses kejek ini dipercaya oleh pembuat teh di Desa Cigedug ini, sebagai proses mengeluarkan getah daun teh, agar mendapatkan hasil fermentasi lebih baik.
Lalu, setelah melalui proses kejek, kemudian daun teh tersebut dibawa ke tempat penggarangan untuk proses pengeringan yang di atas bara api.
Kemudian, ditahap akhir, daun teh tersebut disimpan di suatu tempat untuk didiamkan selama tiga hari, setelah itu baru dipilah untuk siap dipasarkan.
Bawa Angin Segar dan Utak-atik Komposisi Pemain, Mario Gomez Buka Jalan untuk 2 Pemain Ini https://t.co/rbHqG8gAUj via @tribunjabar
— Tribun Jabar (@tribunjabar) March 6, 2018
Oos Affandi mengatakan, dirinya adalah generasi ketiga pelaku produsen teh yang masih menggunakan cara tradisional di Desa Cigedug yang berada di Kaki Gunung Cikuray.
"Sudah ada sejak tahun 1970 dan masih bertahan dengan cara kejek ini," Oos kepada Tribun Jabar di lokasi pembuatan teh kejek, Selasa (6/3/2018).
Setiap harinya, di tempat produksi ini, Oos bersama pekerja lainnya, mampu memproduksi hampir 100 kilogram daun teh basah segar.
Baca: Dapat Komentar Pedas, Antonio Conte Semprot Ikon Liverpool dan Legenda MU
"Teh basah ini, setelah diolah menjadi 25 kilogram teh siap seduh," ujarnya.
Untuk harga per kilogram teh kejek, Oos mematuk harga relatif murah dibandingkan teh pada umumnya, yakni Rp 40 - 60 ribu per kilogram.
Oos mengatakan, sebelumnya, produksi teh yang turun temurun ini dipasarkan ke beberapa daerah di luar Garut, bahkan ke luar negeri.
"Tetapi saat ini, permintaan teh kejek hanya mampu menguasai pasar Garut saja," ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/teh-kejek_20180306_113241.jpg)