Kronologi Perawat Suntik Mayat Versi Keluarga Korban:Ada Kamar Kosong Setelah Bilang Pasien non-BPJS
Suara lelaki dalam video menerangkan telah meminta seorang perawat untuk segera menghubungi dokter.
TRIBUNJABAR.CO.ID, SURABAYA - Video yang menunjukkan kemarahan keluarga pasien kepada dokter dan perawat di RS Siti Khodijah, Taman, Sidoarjo viral di media sosial.
Keluarga pasien ini marah karena menilai rumah sakit telah gagal menangani pasien.
Suara lelaki dalam video menerangkan telah meminta seorang perawat untuk segera menghubungi dokter.
Keluarga ini makin geram ketika perawat hanya datang menyuntik pasien yang sudah tak berdaya.
Keluarga ini menduga ketika perawat datang menyuntik, ibu mereka telah tiada.
Lalu muncul suara perempuan yang menyebutkan si perawat telah menyuntik mayat.
Baca: Ini Profil Singkat Striker Argentina Incaran Persib Bandung, Jonathan Bauman
Baca: Lihat Video Skill dan Gol-gol Calon Penyerang Asing Persib Bandung, Jonathan Bauman
Keluarga ini geram karena perawat tak memberikan tindakan lebih serius ketika kondisi pasien sudah memburuk.
Ekspresi mengejutkan malah ditunjukkan sang dokter yang ditemui oleh keluarga pasien ini.
Ketika ditanya kenapa tak memberikan penanganan serius, si dokter malah terlihat kebingungan.
Mendengar komplain itu sang dokter lebih memilih dengan catatan di depannya.
Sedangkan dua perawat terlihat hanya duduk di depan dokter.
Pihak rumah sakit baru tahu satu pasiennya meninggal setelah diberi kabar dari pihak keluarga.
"Saya bilang ya tolong sampaikan kepada pimpinan anda dan dokter Hamd**"
"Apabila terjadi sesuatu dengan ibu saya sebelum dokter itu datang, aku tuntut semua. Tapi endak tau kamu laporkan endak"
"Anda seorang perawat dan seorang (dokter) spesialis, mengenali mayat saja endak tau"
"Ini (perawat) nyuntik mayit bukan pasien," terang pria dalam video tersebut.
Baca: Pengacara Ahok Sebut Veronica Tan Korban Rayuan Maut Julianto Tio
Baca: Saat Jadi Gubernur, Ahok Datangi Julianto Tio untuk Tak Hubungi Vero Lagi, Tapi Ditanggapi Begini
Gegara keributan itu pengunjung rumah sakit sempat berhampuran ke luar ruangan.
Kronologi Versi Keluarga
Setelah video ini viral, pihak keluarga akhirnya angkat bicara.
Daud Hamzah (41), anak pasien, warga Desa Ketegan, Taman mengatakan ibunya (Supariyah, 67) meninggal di RS tersebut pada 21 Desember 2017 lalu pukul 21.00 WIB.
"Meninggal karena saya menduga ibu saya diterlantar dan kemungkinan juga ada dugaan malapraktik terhadap ibu saya," kata Hamzah saat ditemui di rumahnya.
Hamzah menuturkan pada 20 Desember ibunya mengeluhkan pusing dan mual. Kemudian Hamzah membawa ibunya ke RS tersebut.
Saat tiba di RS, petugas resepsionis mengatakan ke Hamzah tak ada kamar kosong.
Kemudian Hamzah menanggapi petugas tersebut ingin memasukan ibunya sebagai pasien umum, bukan pasien JKN (BPJS).
"Petugasnya langsung mengatakan ada satu kamar kosong. Akhirnya ibu saya masuk pukul 11.30 WIB," sambungnya.
Mendapatkan ruang perawatan tak berarti mendiang Supariyah ditangani secara medis.
Hamzah mengaku ibunya dijanjikan akan ditangani dua dokter spesialis dalam dan syaraf.
Namun hingga keesokan harinya, ibunya sama sekali tak ditangani secara medis.
"Hingga malam hari keesokan harinya sampai keadaan ibu saya kritis juga belum ditangani. Saat itu pukul 20.00 WIB," ujarnya.
Hamzah yang sudah emosi meminta perawat untuk segera memanggil dokter spesialis yang dijanjikan itu. Pada pukul 21.00 WIB belum juga datang, namun seorang perawat menyuntikan sesuatu ke ibunya tanpa mengecek kondisi mendiang Supariyah.
Namun, Hamzah curiga, ketika perawat menyuntik, keadaan ibunya dalam keadaan tak sadar, tak bergerak, dan tak merespon, sama sekali.
Hamzah mengecek nadi ibunya, ternyata tak ada denyut. Ternyata Supariyah sudah meninggal.
Atas kejadian ini, pihak keluarga mengajukan somasi ke RS untuk meminta pertangghngjawaban penanganan medis ibu Supariyah.
"Tak ada tanggapan sama sekali oleh pihak RS," ucap Daud Hamzah.
Kuasa hukum keluarga, Achmad Yusuf, menambahkan pihaknya sudah mengirim dua somasi ke RS Siti Khodijah Taman. Somasi pertama tertanggal 10 Januari, namun tak digubris pihak RS.
"Somasi kedua 17 Januari baru ditanggapi. Isinya, mereka (RS) sudah lakukan sesuai SOP, meninggalnya ibu klien kami di luar kemampuan RS, dan kami diarahkan untuk menemui pengacara korporasi," tandas Yunus.
Yunus menyatakan pihaknya ingin meminta kejelasan terkait tak ditanganinya ibu Supariyah secara kekeluargaan.
"Kami lanjutkan somasi ketiga. Jika tak ditanggapi, kami akan langsung upayakan langkah hukum. Kami sudah melapor ke Polda Jatim dan MKDI terkait masalah ini," ungkap Yunus.(*)