Puluhan Hektar Sawah di Desa Balekambang Majalaya Tercemar Limbah Tekstil
Limbah bekas celupan tekstil tersebut masuk ke lahan persawahan milik warga dan mencemari sawah warga.
Penulis: Seli Andina Miranti | Editor: Ravianto
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Seli Andina
TRIBUNJABAR.CO.ID, BANDUNG - Puluhan hektar sawah di Desa Balekambang, Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung, tercemar limbah cair dari celupan tekstil.
Para petani di Desa Balekambang tersebut mengeluhkan saluran air yang tepat berada di pinggir sawah telah tercemar limbah berwarna hitam pekat tersebut.
Menurut pantauan Tribun Jabar di lokasi, Kamis (4/1/2018), kondisi lubang pembuangan limbah cair berada di selokan air perbatasan pabrik dengan lahan persawahan milik warga.
Dari lubang tersebut tampak keluar cairan berwarna hitam dan berbuih putih yang kemudian buihnya mengental menjadi hitam.
Baca: Semur Babat khas Ma Iyum, Resep Turun Temurun yang Disukai Pelanggan
Baca: Tahun 2018 Baru Empat Hari, Ayu Ting Ting Sudah Dilanda Kabar Buruk
Limbah bekas celupan tekstil tersebut masuk ke lahan persawahan milik warga dan mencemari sawah warga.
"Daerah ini banyak gangguan limbah pabrik masuk ke sawah, terutama limbah celup," ujar Yusuf Supardi (49), petani yang lahannya terdampak limbah.
Akibat limbah tersebut, pertumbuhan padi yang ditanamnya menjadi terganggu dan hasilnya tidak sebanyak yang seharusnya.
Kondisi seperti itu, menurut Yusuf Supardi, sudah cukup lama terjadi, sejak sekira tahun 1990-an
Yusuf Supardi mengungkapkan, dirinya memiliki 7000 meter persegi atau hampir satu hektare lahan sawah, sebelumnya dirinya mampu menghasilkan hingga enam ton beras setiap panen.
Kapal Perang Buatan Indonesia yang Dibeli Filipina Ini Makin ‘Sakti’ Berkat Peran Italia dan Israel https://t.co/JcEE2qBRzY via @tribunjabar
— Tribun Jabar (@tribunjabar) January 2, 2018
"Kalau sekarang paling hanya empat ton saja," ujar Yusuf Supardi.
Sayangnya, para petani tak dapat berbuat apa-apa, pipa pembuangan dibuat di dasar selokan diduga agar tak terlihat.
Pembuangan pabrik pun dikontrol melalui CCTV, diduga untuk memantau keadaan di lokasi pembuangan.
"Saya berharap Pemerintah menunjukkan kepedulian pada kami para petani," ujar Yusuf Supardi.(*)