Kamis, 23 April 2026

Bertemu Anak Muda Yogyakarta, Ridwan Kamil: Saya Senang Sekali, Anak Muda di Sini Kreatif

Selain itu, Yogyakarta juga memiliki potensi sumber daya manusia yang besar, seperti anak-anak muda yang penuh kreativitas.

Penulis: Muhamad Nandri Prilatama | Editor: Fauzie Pradita Abbas
Tribun Jabar/Muhamad Nandri Prilatama
Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil saat berbincang dengan tokoh komunitas Jogja Creative Society, di Kedai Kolega, Jalan Gedongkuning Selatan, Kotagede, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin (2/10/2017) 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Nandri Prilatama

TRIBUNJABAR.CO.ID, YOGYAKARTA - Daerah Istimewa Yogyakarta dikenal sebagai kota pendidikan.

Selain itu, Yogyakarta juga memiliki potensi sumber daya manusia yang besar, seperti anak-anak muda yang penuh kreativitas.

Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil memiliki kesempatan untuk bertemu dan berbincang-bincang santai bersama para anak muda kreatif saat dirinya mengunjungi Yogyakarta, Senin (2/10/2017).

Bertempat di Kedai Kolega, Jalan Gedongkuning Selatan, Rejowinangun, Kotagede, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Ridwan Kamil berkumpul bersama komunitas Jogja Creative Society (JCS) pada pukul 21.00 Wib.

Sebelum acara dimulai, Emil sapaan akrabnya langsung diserbu oleh para anak muda yang meminta berfoto bersama. Dengan tampilan casual anak muda, Emil pun dengan penuh senyum melayani satu per satu anak muda kreatif Jogja.

"Saya sangat gembira bisa datang ke sini (Yogyakarta) dan dapat berkumpul dengan anak-anak muda kreatif. Karena bagi saya, momen semacam ini sangat susah sebab dulu inilah habitat saya. Jadi, ingatan kebebasan ini datang kembali dan membuat saya senang," kata pria yang pernah juga menjadi ketua Bandung Creative City Forum (BCCF) pertama, Senin (2/10/2017)

Emil menjelaskan, datangnya ke Kota Yogyakarta, dikarenakan dirinya hendak menerima undangan Pemerintah DIY untuk meresmikan nama jalan yang bernuansa sunda, yakni Jalan Siliwangi dan Padjajaran.

Suasana cair penuh canda dan tawa pun tercipta di udara Yogyakarta yang dingin di malam hari. Dia menjelaskan mulai pertama menjadi wali kota hingga saat ini. Berbagai permasalahan ia hadapi, hingga ia pun memiliki solusi atau cara untuk menyelesaikannya.

"Sebelum jadi wali kota itu status saya arsitek dengan mendesain banyak bangunan. Saya juga saat itu adalah seorang dosen, dan aktivis sosial dengan menjadi ketua komunitas kreatif Bandung yang pertama," ucapnya seraya menyebut dengan menjadi dosen dapat memiliki insting berpikir secara ilmiah, dengan modal arsitek pun membuat sifat mengambil keputusan solusi cepat, serta menjadi aktivis sosial pikiran pun lebih komprehensif sehingga rasa empati lebih tinggi.

Dalam bincang-bincangnya itu juga, Emil memaparkan satu per satu keberhasilan yang telah diraih oleh Bandung, salahsatunya dengan teori happiness index. Sebab, dia beranggapan bahwa kemajuan suatu bangsa bukan diukur dari ekonomi statistik atau per kapita, melainkan sebuah kebahagiaan.

"Maka, saya mulai itu semua dengan melihat masalah Bandung seperti apa. Orang Indonesia itu cendrung ingin diajak, saya pun buat teori dengan segitiga, yakni inovasi, kolaborasi, dan desentralisasi," jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Jogja Creative Society (JSC), Greg Wuryanto mengakui kedatangan Ridwan Kamil ke Yogyakarta sangatlah bermanfaat. Baginya, ini merupakan kesempatan melihat seorang birokrat yang telah mengubah wajah sebuah kota.

"Teman-teman kreatif ini butuh partner. Kang Emil pun menjelaskan banyak success story-nya dan pelibatan masyarakat serta birokrat dalam kepemimpinannya," ujar dia.

Dia juga mendapatkan ilmu dari apa yang dikatakan Emil, yakni seorang pemimpin harus mampu berinisiatif berani mengubah sebuah sistem dengan menawarkan teori segitiga.

"Itulah yang perlu kami tularkan ke birokrat di kota kami," tegasnya. (dri)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved