Tanda-tanda Gunung Agung Meletus Semakin Terlihat, Binatang Liar Mulai Turun

Kantung magma masih tetap tapi fluida sudah naik ke permukaan dan rentetan gempa semakin intensif

Editor: Ravianto
TRIBUN BALI
Pengungsi warga sekitar Gunung Agung 

Dengan peningkatan status Awas, Kepala Pelaksana Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) Bali, Dewa Made Indra, mengingatkan warga untuk tidak melakukan aktivitas di daerah bahaya.

"Zona merah di radius 9 km plus sektoral barat daya, selatan, tenggara, timurlaut, dan utara sejauh 12 km," ujarnya.

Pada Jumat (22/9/2017) kemarin, peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Agung terus meningkat.

Magma di dalam kawah terus naik ke permukaan.

Baca: Aku yang Membunuh Kakekmu, Ayo Kalau Mau Balas Dendam, dan Bungkas Pun Tewas

Baca: Ditahan Bhayangkara FC 1-1, Persib Bandung Paling Hebat untuk Urusan Ini

Gempa tektonik lokal mulai dirasakan warga yang berada di kawasan rawan bencana III, II, I (KRB I). Seperti di Kecamatan Kubu, Rendang, Manggis, dan Karangasem.

Kasbani menjelaskan, gempa hampir mencapai 600 kali.
Sedangkan dalam periode pukul 00.00-12.00 Wita terjadi 58 gempa vulkanik dangkal, 318 kali gempa vulkanik dalam, dan 44 kali gempa tektonik lokal.

Amplitudo vulkanik dalam masih stagnan rata-rata 4 sampai 8 mm.

Untuk vulkanik dangkal amplitudo 3-5 MM, durasinya 10-11 detik. Gempa tektonik lokal amplitudonya 7-8 MM, durasi mengalami peningkatan drastis dari 30-47 detik menjadi 36-89 detik.

Kasbani menambahkan, magma terus naik ke permukaan. Asap kawah mulai naik ke atas, dan menutupi gunung agung.

"Sekarang masih tinggi-tingginya (gempa). Setiap hari aktivitasnya lebih tinggi dibanding hari sebelumnya. Sejak ditetapkan level II (Waspada) tanggal 14 September, jumlah gempa puluhan. Saat meningkat ke Siaga, jumlah gempa naik hingga ratusan kali," katanya.

Seperti diketahui, energi yang dihasilkan dari aktivitas magma di bawah kawah Gunung Agung cukup tinggi.

Itu bisa diprediksi dari jarak waktu letusan pada 54 tahun silam, dari tahun 1963.

Karakter Gunung Agung sangat eksplosif, berbeda dengan gunung berapi lainnya yang berada di Indonesia.

Halaman
123
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved