Kisah Cut Nyak Dien
Bagian 1 - Cut Nyak Dien Sudah Tak Bisa Melihat Saat Ditangkap dan Diasingkan ke Sumedang
Makam Cut Nyak Dien secara turun temurun dijaga keturunan H Husna Bin Sanusi, sosok yang mengurus Cut Nyak Dien di Sumedang.
Penulis: Seli Andina Miranti | Editor: Tarsisius Sutomonaio
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Seli Andina
TRIBUNJABAR.CO.ID, SUMEDANG- Kisah heroik Cut Nyak Dien selama menjadi panglima perang melawan pemerintah kolonial Belanda di Aceh telah banyak diceritakan dalam banyak buku sejarah.
Tidak seperti kisah heroiknya, tak banyak yang tahu kisah Cut Nyak Dien setelah berada di Sumedang.
Tribun Jabar mendatangi makam Cut Nyak Dien yang terletak di kompleks pemakaman Gunung Puyuh, Kampung Gunung Puyuh, Desa Sukajaya, Kecamatan Sumedang Selatan, Kamis (10/8/2017).
Makam Cut Nyak Dien secara turun temurun dijaga keturunan H Husna Bin Sanusi, sosok yang mengurus Cut Nyak Dien di Sumedang.
Saat ini, makam dijaga oleh Dadan Kusumah (74), keturunan ke empat H Husna Bin Sanusi (50), dan Asep Gusnandar, keturunan ke lima H Husna Bin Sanusi.
Dari para pengurus makam-lah didapat kisah mengenai kehidupan Cut Nyak Dien selama di Sumedang.
"Kami secara turun temurun ada dokumennya, ditambah sekarang banyak informasi tambahan," ujar Dadan Kusumah.
Baca: Penumpang Becak di Kota Bandung Akan Dikenai Denda Rp 250 Ribu, Ada Apa?
Melansir dokumen milik Forum Keluarga H Husni Bin Kh Sanusi yang Tribun Jabar dapat dari Dadan Kusumah, Cut Nyak Dien dibuang ke Sumedang pada 11 Desember 1906.
Satu tahun sebelumnya, Cut Nyak Dien ditangkap Belanda pada 6 November 1905 atas laporan satu di antara panglima perangnya yang bernama Teuku Panglaot.
Teuku Panglaot bukan berkhianat melainkan terpaksa memberi tahu lokasi Cut Nyak Dien karena merasa kasihan melihat keadaan panglima wanita itu.
Pada saat itu, Cut Nyak Dien sudah tua, matanya pun sudah tak bisa melihat.
Karena itulah Teuku Panglaot memilih melaporkan Cut Nyak Dien agar pahlawan wanita itu tidak hidup tersiksa di hutan.
"Dengan satu syarat, Cut Nyak Dien tidak boleh dianiaya, dibunuh, atau diasingkan," ujar Dadan Kusumah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/cut-nya-dien_20170810_204439.jpg)