Liputan Khusus
Warga Margaasih Resah, Mega Proyek Tol Air Cibeureum Makan Lahan dan Rumah Warga
Saat ini proses pendataan masih berjalan. Saya belum mendapat data yang riil, tapi surat pemberitahuan dan formulir pendataan telah diberikan...
Penulis: Yudha Maulana | Editor: Kisdiantoro
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Yudha Maulana
TRIBUNJABAR.CO.ID, MARGAASIH ‑ Warga kampung Margaasih dan Lagadar di Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, gamang oleh wacana proyek Tol Air Cibeureum yang diinisasi oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum.
Proyek itu butuh pelebaran sungai dan akan memakan lahan dan puluhan rumah warga di dua kampung tersebut. Proses sosialisasi dan pendataan pun telah dilakukan oleh BBWS Citarum dengan melibatkan pihak konsultan sejak April 2017.
Rencananya, megaproyek itu dibuat untuk melakukan normalisasi daerah aliran Sungai Cilember dan Cibereum. Sungai Cilember membawa air dari Kota Cimahi, sedangkan Sungai Cibeureum membawa air dari Kota Bandung.
Kedua sungai itu bermuara di Citarum dengan melewati Terowongan Curug Jompong yang sampai saat ini masih dalam tahap pengkajian dalam progres pengerjaannya.
Masih Ingat Kustian 'Budak Jalanan', Tak Disangka Seperti Ini Keadaannya Sekarang https://t.co/IZZcYzsyNT via @tribunjabar
— Tribun Jabar (@tribunjabar) July 24, 2017
Kedua anak sungai Citarum itu memiliki lebar bervariasi, sekitar 2‑4 meter, yang akan dilebarkan hingga 14 meter. Pelebaran itu dilakukan untuk mengurangi banjir di wilayah Rancamalang, Kabupaten Bandung, Kota Bandung, dan Kota Cimahi. Selain itu, akan dibuat jalan di dua sisi bantaran sungai sekitar 4 meter.
Camat Margaasih, Asep Kuswandi, membenarkan wacana pembangunan proyek itu. Kendati begitu, ia belum mengetahui secara terperinci berapa banyak rumah dan lahan yang akan terdampak pelebaran sungai. Asep mengatakan bahwa proses sosialisasi dilakukan melalui desa dan para tokoh setempat.
"Saat ini proses pendataan masih berjalan. Saya belum mendapat data yang riil, tapi surat pemberitahuan dan formulir pendataan telah diberikan kepada warga," kata Asep saat dihubungi Tribun melalui ponselnya, Kamis (20/7).
Nana Karim (51), warga Kampung Cigugur 01/03, Desa/Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, mengaku kaget ketika istrinya menghubunginya bahwa ada pihak konsultan dari BBWSC yang akan memasang patok penanda pelebaran Sungai Cibereum dan melakukan pendataan kepada warga.
Ayu Ting Ting Kembali Bergabung di Pesbukers, Ibunya Kok Malah Sebut Stasiun TV Lain? https://t.co/qNDcTaugWR via @tribunjabar
— Tribun Jabar (@tribunjabar) July 24, 2017
"Semuanya sudah diukur. Rumah saya katanya kena (pelebaran sungai). Saya berharap ada penggantian yang sepadan dari pemerintah karena kami takut tidak bisa punya rumah lagi. Saya antara percaya dan tidak percaya," kata Nana ketika ditemui Tribun di rumahnya, Kamis (20/7).
Pria yang bekerja sebagai petugas sekuriti itu berharap, BBWS tidak tanggung‑tanggung dalam melakukan penggantian bagi rumah yang sebagian bangunan rumahnya tergusur. Penggantian sebagian rumah, katanya, akan menyulitkan bagi warga yang memiliki rumah yang sempit. "Bila ini program pemerintah, saya mendukung. Tapi jangan setengah‑setengah. Tanggung, mending satu rumah saja sekalian," katanya.
Hal senada diutarakan oleh Ketua RT 09/10 Margaasih Residence, Desa Lagadar, Asep Zikri. Asep tak percaya jika kompleks perumahan yang baru ia tinggali selama lima tahun terkena dampak pelebaran.
"Pihak developer juga, yakni Pak Hendra Haryansah, mengontak saya untuk mengonfirmasi kebenaran rencana tersebut," ujar Asep kepada Tribun di Lagadar, kemarin.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/teaser_20170723_211107.jpg)