Selasa, 14 April 2026

Mengerikan! Perempuan ISIS Gendong Anak Kecil Saat Ledakkan Bom Bunuh Diri

Seorang perempuan pelaku bom bunuh diri terekam stasiun televisi Irak saat akan melakukan aksinya di kota Mosul

Editor: Amalia Qisthyana Amsha
Telegraph
Foto yang diambil dari rekaman stasiun televisi Al-Mawsleya memperlihatkan seorang perempuan yang menggendong anak melintasi sekelompok tentara Irak yang berjaga di salah satu sudut kota Mosul. Detonator bom disamarkan sebagai sebuah tas (dilingkari) sementara bahan peledak tersembunyi di balik pakaian perempuan itu.(Al Mawsleya/Telegraph) 

TRIBUNJABAR.CO.ID - Sebuah stasiun televisi Irak menangkap momen-momen mengerikan detik-detik ketika seorang pengebom bunuh diri beraksi di wilayah kota Mosul yang diduduki ISIS.

Awalnya, dalam rangkaian awal rekaman itu terlihat seorang perempuan menggendong anak kecil dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya membawa sebuah tas.

Perempuan itu, melewati sekelompok tentara Irak yang tengah berjaga di dekat wilayah yang masih dikuasai ISIS.

Ternyata tas yang dibawa perempuan itu bukanlah tas biasa.

Tas itu berfungsi sebagai detonator yang diledakkan beberapa detik kemudian.

"Dia nampaknya berusaha meledakkan bom itu saat melintasi di depan sekelompok tentara Irak," kata seorang juru kamera stasiun televisi Al-Mawsleya.

Namun, lanjut sang juru kamera, bom tak meledak hingga dia berada beberapa meter dari kerumunan tentara.

Akibat ledakan bom itu, perempuan tersebut dan anak yang digendongnya tewas seketika.

Sementara dua orang tentara dan beberapa warga sipil terluka.

Kru stasiun televisi Al-Mawsleya sedang berada di Mosul untuk mengabarkan perkembangan operasi militer pasukan Irak di kota itu.

Para kru televisi itu tak menyadari peristiwa yang terekam kamera hingga mereka memeriksa ulang hasil liputan itu beberapa saat setelah peristiwa tersebut.

ISIS kini terpojok di wilayah sempit di Kota Tua Mosul dan militer Irakyang posisi itu tak lama lagi akan segera direbut.

Sementara itu, ISIS menggunakan semua persenjataan yang tersisa dan berbagai cara untuk menghambat laju tentara pemerintah untuk mengakhiri operasi militer yang sudah berlangsung selama sembilan bulan itu.

Sumber: Kompas
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved