Rabu, 8 April 2026

Tak Pernah Sekolah Formal, Bocah 14 Tahun Ini Akhirnya Jadi Mahasiswa ITB

Meskipun tidak pernah mengikuti pendidikan formal, Musa Izzan Wijanarko mampu lolos SBMPTN 2017 dan menjadi mahasiswa FMIPA ITB.

Editor: Futhuriyyah Rufaidah Mahendra
Courtesy Trans7
Musa Izzanardi Wijanarko dan sang Ibu di acara Hitam Putih Trans7 

TRIBUNJABAR.CO.ID - Peserta lolos Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2017 telah diumumkan, Selasa (13/6/2017).

Siswa SMA se-Indonesia saling bersaing demi mendapatkan kursi di perguruan tinggi idaman.

Tidak hanya siswa SMA atau siswa dari sekolah formal, namun ada juga peserta yang hanya bermodal ijazah paket C.

Satu di antaranya adalah Musa Izzanardi Wijanarko.

Bocah asal Bandung yang akrab disapa Izzan ini tidak pernah mengikuti pendidikan formal sejak tingkat Taman Kanak-kanak (TK).

Walaupun tidak pernah mengikuti pendidikan formal, Izzan lolos SBMPTN 2017 dan menjadi mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Ijazah paket C yang didapatkannya pada tahun 2015 lalu menjadi modal untuk mengikuti SBMPTN 2017.

"Ijazah paket A (SD) diambil waktu dia umur 8 tahun," ujar Yanti, ibu kandung Izzan, saat dihubungi Kompas.com melalui ponselnya, Rabu (14/6/2017) .

Yanti memaparkan alasan anaknya tidak pernah bersekolah resmi. Menurut dia, kejeniusan Izzan mulai terlihat ketika usiannya masih 3 tahun. Buku-buku tentang tokoh-tokoh fisika dan matematika menjadi bacaan wajibnya sehari-hari.

"Izzan pernah enggak naik dari TK A ke TK B karena waktu di sekolah alam cuma main terus enggak mau belajar dan tidak mampu mengikuti kegiatan di kelas. Akhirnya saya ajari sendiri di rumah," tutur Yanti.

Di rumah, Yanti mengajari Izzan membaca. Bahkan Izzan meminta ibunya untuk mengajarinya bermain catur hingga akhirnya permainan asah otak tersebut menjadi aktivitas rutin ibu dan anak ini.

Menginjak usia 6 tahun, Izzan bertambah cerdas. Bocah pengagum Newton ini pun kerap kali mempraktikkan hukum gravitasi dalam kegiatan sehari-hari.

"Izzan anaknya enggak bisa diam, tetapi kalau belajar matematika dia bisa tenang. Ternyata mengamati bagian dari belajar yang dilakukannya. Dia senangnya nabrak anak lain sampai jatuh. Dia juga sering nanya teori Newton tentang hukum benda-benda angkasa," sebutnya.

Secara intensif Izzan terus belajar sendiri matematika di rumah dengan ibunya sebagai mentor. Satu tahun berjalan Izzn pun mampu menyelesaikan soal-soal dan rumus matematika yang dipelajari anak-anak SMA.

"Matematika kelas 1 SD sampai kelas 1 SMA ditempuh dalam waktu satu tahun karena dia cuma belajar matematika saja. Tulisannya juga acak-acakan karenaa jarang nulis. Umur 7 tahun Izzan mulai belajar fisika," tuturnya.

Sumber: Kompas
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved