Hari Pancasila
Menurut Dedi Mulyadi Begini Cara Amalkan Pancasila yang Benar
Bagi saya, ber-Pancasila itu bukan sekedar posting di media sosial, berteori dengan pidato berapi-api. Tapi bergotong royong untuk mencapai keadilan.
Penulis: Mega Nugraha | Editor: Ichsan
Laporan Wartawan Tribun Jabar Mega Nugraha
TRIBUNJABAR.CO.ID, PURWAKARTA - Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi menegaskan, pengamalan Pancasila harus diwujudkan dengan memberikan beras gratis berkualitas untuk masyarakat, bukan memberikan beras kualitas rendah dan harus membayar.
"Bagi saya, ber-Pancasila itu bukan sekedar posting di media sosial, berteori dengan pidato berapi-api. Tapi bergotong royong untuk mencapai keadilan.
Contohnya, hari ini saya memberlakukan ATM beras untuk warga," ujar Dedi di sela peresmian ATM beras di Desa Wanakerta, Kecamatan Bungursari, Kabupaten Purwakarta, Kamis (1/6/2017).
Pada peringatan hari lahir Pancasila kali ini, Dedi meresmikan pemberlakuan ATM beras di Desa Wanakerta Kecamatan Bungursari yang berada di kawasan industri. ATM beras mampu menampung 300 kg dan diperuntukan bagi warga penerima beras sejahtera (Rastra).
Meski begitu, mesin di ATM beras bukan beras dari Bulog. Setiap bulannya, warga penerima mendapat jatah 15 kg dengan sekali pengambilan maksimal 3 kg.
"Hari ini diperingati hari lahir Pancasila, saya tidak akan pidato tinggi-tinggi soal Pancasila deh. Bicara Pancasila itu bicara gotong royong menyumbang beras berkualitas untuk keluarga tidak mampu dengan gratis. Nah di Purwakarta kami wujudkan itu dengan menerapkan ATM beras, berasnya hasil sumbangan dari ASN, warga mampu dan buruh," ujarnya.
Baca: Rumah Adik Ipar Bomber Kampung Melayu di Garut Turut Digeledah
Ia menambahkan, rastra yang semula bernama beras miskin (raskin) sebagai bagian dari program pemerintah pusat dianggapnya bukan bagian dari cara-cara berperilaku Pancasila.
"Rastra itu tidak Pancasilais. Berasnya kurang berkualitas dan penerimanya warga kurang mampu harus beli. Kan tragis," ujarnya.
Beras sebagai kebutuhan dasar warga seharusnya bisa diakses dengan gratis. Caranya dengan bergotong royong. Ia mencontohkan, di Pemkab Purwakarta, ASN mampu menyumbang beras setiap bulannya.
"Berikut juga dengan buruh di Purwakarta juga mampu menyumbang beras. Nilainya, buruh yang gajinya Rp 2,5 juta nyumbang Rp 2.500, yang gajinya Rp 5 juta nyumbang Rp 5.000.
Uangnya digabung, patungan untuk dibelikan beras. Beras yang sudah dibeli untuk mengisi ATM beras untuk diakses warga secara gratis," kata dia.
Seorang warga pengakses ATM beras, Onih (56) mengatakan, sebelumnya ia mendapat jatah rastra dari pemerintah desa harus membeli dengan harga rendah.
"Sekarang mah berasnya gratis, kalau bulan lalu beli rastra dengan harga murah yang disediakan dari kantor desa," kata dia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/bupati-purwakarta-dedi-mulyadi-tinjau-atm-beras_20170601_122621.jpg)