Jumat, 24 April 2026

Jejak Penyebaran Islam

Mbah Wali Cibiuk Meninggalkan Masjid Megah di Garut

Nama Haruman berasal dari Gunung Haruman, tempat kompleks pemakaman berada. Kompleks . . .

Penulis: Firman Wijaksana | Editor: Dedy Herdiana
TRIBUN JABAR/FIRMAN WIJAKSANA
ZIARAH - Warga berziarah ke makam Syekh Jafar Sidiq di kompleks pemakaman Sunan Haruman di Kampung Kilanjung, Desa Cipareuan, Kecamatan Cibiuk, Minggu (28/5/2017). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Firman Wijaksana

TRIBUNJABAR.CO.ID - KECAMATAN Cibiuk menjadi saksi sejarah berkembangnya Islam di wilayah Garut. Jejak-jejaknya masih banyak terlihat. Mulai dari masjid kuno yang masih berdiri megah hingga makam-makamnya.

MASJID di Jalan Pesantren Tengah, Desa Cibiuk Tengah, Kecamatan Cibiuk, ini adalah peninggalan Syekh Jafar Shidiq alias Mbah Wali Cibiuk. Masjid ini dibangun pada abad ke-16. Warga sekitar menyebutnya dengan nama Masjid Agung atau Masjid Karamat. Sebagian orang juga mengenalnya dengan nama Masjid Mbah Wali.

Sebutan Masjid Mbah Wali muncul karena pendiri bangunan tersebut juga dikenal dengan nama Mbah Wali Cibiuk. Atap masjid ini khas, berbentuk kerucut yang disangga empat tiang kokoh dari kayu jati. Meski sudah berkali-kali direnovasi, bentuk asli atap kerucut ini masih bisa dilihat.

Menurut Encep Ahmad Junaedi (61), pengurus Masjid Mbah Wali Cibiuk, kayu jati tersebut berasal dari Banten dan usianya sudah mencapai 400-an tahun.

"Tiang penyangga masjid itu tidak lapuk, masih sangat terawat," ujarnya di Masjid Mbah Wali, Minggu (28/5).

Tak seperti makam penyebar agama Islam yang umumnya berada satu kompleks dengan masjid, makam Syekh Jafar berada di kompleks khusus di Kampung Kilanjung, Desa Cipareuan, Kecamatan Cibiuk. Di kompleks makam seluas lima hektare itu juga dimakamkan kerabat-kerabat Syekh Jafar.

"Kompleks pemakaman terdiri atas empat kompleks makam utama. Semuanya masih kerabat dekatnya (Syekh Jafar Sidiq) yang juga terbilang penyebar Islam di daerah Garut," kata Encep.

Sejumlah peziarah berdoa di depan makam Syekh Abdul Jabar di kompleks pemakaman Sunan Haruman di Kampung Kilanjung, Desa Cipareuan, Kecamatan Cibiuk, Minggu (28/5).
Sejumlah peziarah berdoa di depan makam Syekh Abdul Jabar di kompleks pemakaman Sunan Haruman di Kampung Kilanjung, Desa Cipareuan, Kecamatan Cibiuk, Minggu (28/5). (TRIBUN JABAR/FIRMAN WIJAKSANA)

Kompleks makam Syekh Abdul Jabar berada di sebelah timur. Makam tersebut akan menjadi yang pertama ditemui peziarah. Makam Syekh Abdul Jabar dikelilingi pepohonan yang sangat rindang. Tumpukan batu menutupi makam tersebut. Terdapat juga makam Mbah Masud atau Raden Dipakusumah (ayah Syekh Jafar Sidiq) dan Nyimas Syubatul Alam (istri Mbah Masud).

Makam Syekh Jafar Sidiq berada di area tengah. Di area tengah ini juga dimakamkan istri dan keturunan Syekh Jafar Sidiq, yakni makam Nyimas Ajeng Kalibah (istri Syekh Jafar Sidiq), Nyimas Ajeng Sawiyah (istri Syekh Jafar Sidiq), Nyimas Ajeng Arjawulan (istri Syekh Jafar Sidiq), Eyang Badruddin (putra Syekh Jafar Sidiq dari Nyimas Arjawulan), Eyang Mubarok, dan Eyang Zakaria.

Di arah barat terletak makam Nyimas Ayu Siti Fatimah, anak Syekh Jafar Sidiq. Selain dikenal sebagai putri Syekh Jafar, Nyimas Ayu Siti Fatimah juga dikenal dengan kuliner khasnya, sambal cibiuk. Sambal inilah yang membuat Cibiuk terkenal di Indonesia.
Satu kompleks dengan makam Nyimas Ayu Siti Fatimah adalah makam Eyang Abdul Barri dan makam adik Nyimas Siti Fatimah, yakni Nyimas Aini.

Di paling ujung kompleks pemakaman terdapat makam Mbah Muhammad Asyim (cucu menantu Nyimas Ayu Siti Fatimah) serta makam Mbah Muhammad Nail dan Mbah Muhammad Arif. Keempat kompleks makam utama tersebut dibatasi masing-masing oleh pagar bambu.

"Di masing-masing bagian makam, terdapat beberapa makam yang masih berkerabat. Masyarakat sering mengenalnya dengan makam Syekh Jafar Sidiq atau Sunan Haruman," ucapnya.

Nama Haruman berasal dari Gunung Haruman, tempat kompleks pemakaman berada. Kompleks pemakaman berada di pinggir Jalan Cibiuk. Untuk mencapai lokasi makam, peziarah membutuhkan sedikit perjuangan dengan menaiki puluhan anak tangga. Jarak dari lokasi parkir ke pemakaman sekitar 200 meter.

Menurut Encep, Syekh Jafar Sidiq tidak henti-hentinya mendorong umat untuk terus menggali serta mengembangkan ilmu dan kemajuan ekonomi. Encep mengatakan, sejak kecil, kabarnya, ciri kawalian Syekh Jafar Sidiq sudah terlihat. Apabila ayahnya tengah mengajar mengaji dan terdapat kesalahan, Syekh Jafar tak sungkan mengingatkan.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved