Jumat, 8 Mei 2026

Melestarikan Amanat Astana Gede Kawali yang Telah Menjadi Obyek Wisata

ASTANA Gede di Ciamis utara dikenal sebagai bekas pusat pemerintahan Kerajaan Galuh sekitar abad ke-14 Masehi.

Tayang:
Editor: Dedy Herdiana
KOMPAS/DEDI MUHTADI
Mata air Cikawali di situs purbakala Astana Gede, Desa Kawali, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, dikenal warga setempat sebagai bagian dari bekas pusat pemerintahan Sunda-Galuh pada abad ke-14 Masehi. Mata air itu dipercaya sebagai petilasan pemandian putri Raja Galuh, Diah Pitaloka, yang gugur pada perang Bubat. 

Namun, pada tahun 2000-an terjadi angin puting beliung yang menumbangkan ribuan pohon di hutan alam Astana Gede.

Pohon paling tua yang tumbang diperkirakan berusia 350 tahun. Pohon yang disebut pohon peusar itu tingginya 35 meter dan kayunya sangat keras.

”Ada 300 pohon berusia 150-200 tahun diterbangkan angin puting beliung hingga perkampungan warga,” ujar Daday.

Tahun 2001, Paseban Jagat Palaka menggerakkan masyarakat untuk menanam pohon di Astana Gede Kawali. Pemerintah Kabupaten Ciamis memasok ribuan bibit pohon.

Penanaman pohon dilakukan secara bertahap. Hingga tahun 2015, ditanam sekitar 21.000 pohon berbagai jenis di kawasan petilasan Kerajaan Galuh seluas 5 hektar. 

Sebelum penanaman, kawasan hutan antara Astana Gede dan mata air Cikawali terputus. Ada lahan kebun singkong seluas 2,5 hektar.

Setelah pepohonan tumbuh, kawasan hutan lindung tersambung. Jenis pohon yang ditanam adalah mahoni, rasamala, dan kamper.

Mata air Cikawali dipercaya sebagai petilasan pemandian putri Diah Pitaloka. Mata air ini tidak pernah kering meski kemarau panjang. Namun, setelah terjadi perubahan fungsi hutan di kawasan Gunung Sawal, debit mata air menurun seiring berlalunya musim hujan.

”Sebagian kolam sempat tertutup longsor tahun 2012,” kata Dae Durahman (40), juru pelihara Astana Gede Kawali. Pihaknya bersama Paseban menggali longsor untuk menyelamatkan sumber air Cikawali.

Cikawali merupakan indikator vegetasi hutan Gunung Sawal dan sumber air warga Ciamis. Sumber air ini mengalir ke Sungai Cibulan di sebelah selatan Astana Gede.

Amanat prasasti

Upaya pelestarian Astana Gede dilakukan sejak 1992. Namun, secara resmi Paseban bergerak tahun 1998 dengan memberikan informasi intensif tentang sejarah Astana Gede ke masyarakat. Sejak 1996, upaya itu dilakukan dengan mengejawantahkan budaya Sunda seperti bunyi prasasti Kawali.

Di Astana Gede ditemukan enam prasasti, tiga di antaranya mempunyai makna dan tiga lagi menunjukkan fungsi dari batu itu. Prasasti-prasasti ini, menurut Thomas Stamford Raffles dalam buku History of Java, pada umumnya berisi penghormatan terhadap raja.

Prasasti pertama dari batu andesit segi empat berhuruf Sunda kuno sepuluh baris. Amanatnya, antara lain, Prabu Raja Wastu memakmurkan seluruh kerajaan semoga ada penerus yang membuat kebajikan agar lama jaya di buana (dunia).

Menurut Daday, titah Raja Wastu Kancana (1371-1475), penerus Raja Linggabuana, bermakna luas. Intinya mengharapkan keturunannya, warga Sunda Galuh, bekerja keras, ikhlas, dan jujur. Dalam konteks kekinian, jujur berarti tidak korupsi.

Agar lama jaya di buana, jaya atau unggul di sini bukan hanya hasil pekerjaannya, melainkan juga bisa dikenang selamanya.

Daday mencontohkan, yang membuka taman-taman kota di Ciamis adalah Bupati Taufik Hidayat (almarhum) periode 1988-1993. Orangnya terus dikenang karena hasil karyanya bisa dimanfaatkan oleh warga Ciamis hingga sekarang. (DEDI MUHTADI/KOMPAS)

Sumber: Kompas
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved