Karya Anak Bangsa

Di Tangan Tarkim, Bambu Berubah Jadi Rebab dan Biola

Untuk membuat berbagai alat musik ini Tarkim hanya memakai bambu jenis saadi.

Di Tangan Tarkim, Bambu Berubah Jadi Rebab dan Biola
ISA RIAN FADILAH
Takrim memainkan biola bambu buatannya, di kediamannya Jalan Dago Pojok Tanggulan No 5 RT 07 RW 03 Kelurahan Dago Kecamatan Coblong Kota Bandung, Rabu (15/3). 

BANDUNG, TRIBUNJABAR.CO.ID - Tak lulus SD tak membuat Takrim (52) miskin kreativitas. Di tangannya sebilah bambu bisa menjadi banyak sekali alat musik. Mulai yang sederhana seperti karinding hingga yang rumit seperti rebab dan biola.

Meski dibesarkan di keluarga pandai besi, hasrat berkesenian Takrim telah muncul sejak kecil. Masa remajanya ia habiskan dengan mengikuti berbagai grup tradisional Sunda di daerahnya. Dari sanalah ia mendapatkan dasar-dasar bermusik.

Pembuatan berbagai alat musik sendiri baru dilakukan Takrim sekitar tahun 1980-an. Namun, saat itu bahan yang ia gunakan masih beragam. Fokusnya pada bambu baru ia mulai tahun 2007.

Untuk menghasilkan alat musik yang berkualitas, kata Tarkim, tak sembarang bambu bisa dipergunakan. Untuk membuat berbagai alat musik ini Tarkim hanya memakai bambu jenis saadi.

"Bambu jenis ini dipakai karena jenis tersebut tak mudah belah," ujar Tarkim di kediamannya di Jalan Dago Pojok Tanggulan No 5 RT 07/03 Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, Rabu (15/3).

Namun, tanpa mesin, praktis Tarkim yang juga akrab disapa Akim ini hanya mengandalkan kemahirannya dalam menggunakan pisau. Ini yang membuat semua alat musik buatan Akim "special edition", karena semuanya tak ada yang benar-benar sama.

Selain dari bahan bambu, Akim pun piawai membuat alat musik dari kayu jati. Dari kayu inilah Akim kerap membuat terompet penca sepanjang 60 sentimeter. Untuk membuat terompet penca, ia pun menggunakan tempurung kelapa di bagian atas terompet. Selain itu, ia juga memanfaatkan daun kelapa dan tangkai bulu ayam untuk membuat bagian peniup terompet.

Untuk menyelesaikan pembuatan satu terompet penca, Akim membutuhan setidaknya waktu seminggu. "Bagian yang paling lama adalah membuat ukiran lawong yang ada di bagian bawah," ujarnya.

Akim mengatakan, sekalipun sudah terbiasa, bukan hal yang mudah membuat alat musik hingga bisa mengeluarkan suara sesuai dengan yang diinginkan. Untuk terompet, ia perlu berkali-kali membenarkan ukuran lubangnya supaya dapat mengeluarkan suara yang baik.

"Perlu beberapa kali tes suara. Bunyinya bagaimana, ukuran lubang, nada saya cari sendiri enaknya bagaimana. Saya sesuaikan dengan pianika," ungkapnya.

Kemahiran Akim dalam membuat alat musik menarik perhatian konsumen dari berbagai kota. Pesanan kerap ia terima dari Bogor, Depok, Tasikmalaya, Tasik dan daerah lainnya. Wisatawan mancanegara dari Amerika, Australia, dan Prancis pernah bertamu ke kediaman Akim dan memborong sejumlah alat musik.

"Pemain musik luar negeri belinya terompet dan toleat. Mahasiswa juga banyak yang ke sini untuk penelitian skripsi dari UGM, ITB, UPI, Unpar, ISBI, STP," katanya.

Tak hanya membuat alat musik, Akim bersama grup musiknya yakni Gelengan Sora Awi pun kerap melakukan pementasan musik. Grup tersebut kerap diundang di acara-acara resmi. Alat musiknya dibanderol mulai Rp 35 ribu sampai Rp 1,5 juta. Terompet penca dihargai Rp 400 ribu.

Selain biola, rebab, toleat, dan terompet penca, Akim juga membuat terompet kawih, celempung, kendang celempung, baragbag, keprak, suara air, suara guludug, karinding, wadah karinding, gambang bambu, kohkol buncis, dan gitar tarawangsa.

Di sela kesibukannya membuat alat musik, Akim juga membuat aneka aksesoris dari bahan bambu. Setiap dua minggu sekali, ia memasok puluhan aksesoris bambunya ke pelanggan. (*)

Penulis: Isa Rian Fadilah
Editor: Machmud Mubarok
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved