Urban Farming
Hidroponik, Cara Bercocok Tanam dan Hidup Sehat Kaum Urban
"Setidaknya kan bisa dikonsumsi sendiri. Beli sayur di luar belum tentu itu menyehatkan juga," katanya.
Penulis: Nazmi Abdurrahman | Editor: Kisdiantoro
BANDUNG, TRIBUNJABAR.CO.ID - Hidup sehat dengan asupan makanan bebas bahan kimia berbahaya tampaknya sudah menjadi perhatian yang penting bagi masyarakat. Hidroponik, sistem penanaman dengan media air pun menggeliat lagi untuk menjawab tantangan kaum urban.
Anda bisa membuktikan kala mengunjungi RW 04, Kelurahan Pajajaran, Kota Bandung. Di sana, suasana hijau dan teduh begitu terasa. Suara gemericik aliran air dari sungai yang berada tepat di tengah-tengah permukiman itu, menjelma sebagai simfoni alam, bak oasis di belantara metropolis.
Meski termasuk dalam permukiman padat penduduk, tak nampak kesan kumuh pada kampung ini. Hampir di sepanjang jalan antara rumah-rumah warga yang berdempetan itu ditanami berbagai jenis tanaman menggunakan media pot, ditempel di dinding sampai di gantung di depan rumah. Siapa pun, rasanya, bakal betah berlama-lama di tempat itu.
Di ujung perkampungan, terdapat dua rangka paralon berhadapan bersusun melingkar, bayam merah, selada dan melon tumbuh di media itu dengan sistem hidroponik yang bermedia air.
Meski begitu, tidak berarti tanaman itu tumbuh mengapung-apung di air. Masih tetap ada media penunjang akar yang dipakai. Bisa sekam bakar, rockwool yang mirip busa, perlite (mineral kaca yang mengandung banyak air) hydroton (butiran berbahan lempung), cocopeat (serbuk sabut kelapa), hingga pasir Bromo yang berbentuk mirip garam kasar.
Sistem hidroponik memang dikenal sejak lama, sebagai salah satu teknik bercocok tanam. Bahkan, sejak lebih dari tiga dekade silam, sistem hidroponik sudah diperkenalkan dalam aneka praktikum mata pelajaran ilmu pengetahuan alam anak-anak SD. Tapi, tak dimungkiri, kini hidroponik menggeliat lagi. Ada gaya hidup anyar -lifestyle lebih sehat- yang menggeliatkan lagi hidroponik.
Pada Rabu (25/1) siang, suasana di RW 04, Kelurahan Pajajaran cukup ramai. Ada Charlie Tjendapati (41), pembina Hidroponik di RW 04.
Charlie yang baru datang dari rumahnya di Jalan Makam Caringin, RT 02/02, Kelurahan Margahayu Utara, Kota Bandung ini langsung mengecek beberapa tanaman.
"Ini RW binaan saya, meskipun wilayahnya padat, tapi warga sudah sadar menanam dan hidup sehat," ujar Charlie, memulai percakapan.
Dalam suasana santai tersebut, sesekali Charlie menengok-nengok tanaman hidroponik. Mengecek daun, melongok akar, mewaspadai hama. Ternyata, semua oke.
Charlie mengaku sudah lama suka berkebun. Tapi, dengan media tanah tanamannya kerap diserang hama. Karena itu, dia mencoba beralih ke sistem menanam hidroponik, selain mudah tanaman yang dihasilkan pun sehat.
"Setidaknya kan bisa dikonsumsi sendiri. Beli sayur di luar belum tentu itu menyehatkan juga," katanya.
Selain itu, kata Charlie, menanam secara hidroponik terbilang sederhana dan murah. Dengan kreativitas yang tinggi, aneka bahan bekas dan sisa styrofoam pun bisa dipakai sebagai media menanam dan membibitkan.
"Tapi memang untuk tanaman hidroponik perawatannya harus lebih intensif ketimbang penanaman biasa," katanya.
Misalnya, ujar Charlie, pengendalian serta pemberian nutrisi harus dilakukan dan setiap hari wajib dicek, terutama pukul 11.00-14.00. Sebab, saat itu tumbuhan melakukan penguapan. Dengan begitu, air dan nutrisi harus terus dikontrol agar tidak hilang menguap.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/warga-sedang-beraktivitas-di-kebun-hidroponik_20170308_211943.jpg)