Menyelamatkan Ekosistem Penyu Langka : Tukik-tukik Itu Melesat Menuju Lautan Lepas

Ukuran tukik-tukik itu mungil, hanya seukuran telapak tangan. Setelah memperoleh aba-aba dari petugas . . .

Penulis: M Zezen Zainal Muttaqin | Editor: Dedy Herdiana
TRIBUN JABAR/M ZEZEN ZAINAL M
MELEPAS TUKIK - Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan melepas tukik-tukik di Pantai Ujung Genteng, tepatnya di kawasan Pangumbahan, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, Senin (2/1/2017). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, M Zezen Zainal M

TRIBUNJABAR.CO.ID - SORE itu, awan tebal menggelayut di langit Pantai Ujung Genteng, tepatnya di kawasan Pangumbahan, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi. Sinar matahari sore yang berhasil menerobos ketatnya penjagaan awan menyebabkan semburat cahaya dan membentuk mega berwarna oranye kekuning-kuningan semakin menambah eksotisme pantai elok di selatan Sukabumi itu.

BEBERAPA belas meter dari bibir pantai, puluhan orang berdiri memandang ke pantai serta ke laut lepas. Di antara kerumunan orang itu, terdapat Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, yang didampingi sang istri, Netty Prasetyani Heryawan, dan beberapa pejabat tinggi Pemprov Jabar.

Di sisi pantai yang langsung menghadap ke samudra lepas, Aher, sapaan akrab Ahmad Heryawan, lebih rileks dan santai. Di atas pasir berwarna putih, ia berdiri dan berjalan tanpa alas kaki. Begitu pun Netty, yang juga menjabat Ketua P2TP2A Jawa Barat.

Aher mengenakan kemeja batik lengan pendek bermotif bunga-bunga mirip baju pantai. Sang istri tampak mengenakan pakaian busana muslim kasual berwarna abu-abu. Kerudung warna merah yang dikenakan Ketua Tim Penggerak PKK Jawa Barat itu ditutupi dengan topi lebar yang terbuat dari anyaman daun pandan buatan masyarakat setempat.

Aher dan Netty berdiri paling depan menggotong sebuah baskom (ember) plastik besar berisi ratusan tukik (anak penyu) yang dibawa dari tempat penetasan yang berada di pinggir pantai. Sebelum dilepasliarkan ke habitat aslinya, yakni pantai dan laut lepas, tukik-tukik itu sebelumnya ditangkarkan sementara setelah menetas secara alami.

Ukuran tukik-tukik itu mungil, hanya seukuran telapak tangan. Setelah memperoleh aba-aba dari petugas konservasi penyu, Aher dan istri mendapat giliran pertama untuk melepas tukik-tukik mungil berwarna hitam kecokelatan itu.

Aher berhati-hati membuka kedua tangannya, yang sebelumnya menggenggam seekor tukik. Setelah mengucap basmalah, ia melepaskan tukik yang digenggamnya. Netty, para pejabat, serta para wisatawan dan masyarakat setempat lalu mengikuti langkah Aher melepasliarkan tukik. Aher tak buru-buru berdiri. Seperti seorang bocah, ia tak sungkan untuk andepong (berjongkok dengan posisi kedua lutut dan tanah di pasir) sambil tersenyum memperhatikan gerakan ratusan tukik yang dilepasliarkan ke lautan.

Tukik-tukik itu melesat di atas pasir yang pertama kali diinjak. Meski tak cepat, tukik-tukik itu tampak bersemangat mencium bibir pantai dan berenang di lautan. Tukik-tukik yang terdiri dari sejumlah jenis penyu langka yang hampir punah itu seolah berlomba-lomba seakan hendak mencapai garis finis. Lautan lepas menjadi rumah mereka untuk mengarungi kehidupan.

"Menurut para ahli, penyu pasti akan kembali ke pantai tempat mereka dilahirkan. Bila mereka lahir di Pantai Pangumbahan ini, setelah 25 tahun mereka pasti akan kembali ke sini untuk bertelur dan mengerami telur-telurnya," ujar Aher di sela-sela pelepasliaran ratusan tukik di Pantai Pengumbahan, kawasan Pantai Ujung Genteng, Kabupaten Sukabumi, Senin (2/1/2017).

Dari ratusan ekor tukik yang dilepasliarkan ke lautan, Aher berharap sebagian bisa selamat dan tumbuh dewasa sehingga menjadi penyu. Oleh karena itu, sangat penting pengawasan terhadap keberlangsungan hidup penyu demi menstabilkan rantai makanan di lautan, terutama di kawasan pantai selatan Jawa Barat.

Penyu merupakan hewan yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya di bawah permukaan laut. Induk betina dari hewan ini hanya sesekali ke daratan untuk mengeluarkan telur-telurnya di darat pada wilayah berpasir yang jauh dari kehidupan penduduk.

Perjalanan hidup penyu mulai dari telur hingga ke laut memang penuh perjuangan. Saat masih berbentuk telur di daratan, mereka dihadapkan pada praktik perburuan ilegal telur penyu. Setelah menetas dan menjadi tukik, tukik-tukik yang berhasil menetas harus berjuang hidup dengan menghindari predator alami seperti kepiting pantai, burung, dan tikus. Saat sudah berada di lautan pun, tukik-tukik itu harus berjuang hidup dari pemangsa laut seperti ikan besar dan pemangsa lainnya.

Salah satu jenis penyu yang berada di Pantai Pangumbahan, yakni penyu hijau (Chelonia mydas) contohnya, seekor induk betina penyu hijau mampu memproduksi telur sebanyak 60-150 butir telur setiap kali bertelur. Secara alami, tanpa adanya praktik perburuan ilegal telur penyu saja, dari ratusan butir telur yang dihasilkan, kemungkinan hanya belasan telur yang berhasil menetas menjadi tukik dan tumbuh menjadi dewasa.

Belum lagi bila dihadapkan para perburuan ilegal telur oleh manusia. Bisa jadi, tak ada sebutir telur pun yang berhasil menetas. Oleh karena itu, demi menyelamatkan ekosistem penyu-penyu langka yang hampir punah di Pantai Pangumbahan seperti penyu hijau, penyu sisik (Eretmochelys imbricata), dan penyu pipih (Natator depressus), balai konservasi penyu, yang sebelumnya berada di bawah Pemkab Sukabumi, terhitung sejak 1 Januari berada di bawah tanggung jawab Pemprov Jabar.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved