Senin, 13 April 2026

Wisata

Vila Berdinding Kayu di Pangalengan, Menikmati Lukisan Alam Hamparan Teh Malabar

Teras deretan guest house ini menghadap langsung ke arah lapangan rumput dengan taman dan pepohonan yang tertata sangat rapi.

TRIBUN JABAR/M SYARIEF ABDUSSALAM
Penginapan Malabar, bersebelahan dengan rumah peninggalan KAR Bosscha, terletak di tengah hamparan perkebunan teh Malabar di Pangalengan. 

DERETAN penginapan ini berdiri di tengah hamparan perkebunan teh Malabar di Pangalengan. Ada kamar guest house dan sejumlah vila berdinding kayu yang letaknya tidak jauh dari rumah bersejarah bergaya kolonial peninggalan KAR Bosscha itu.

Sinar matahari pagi awal tahun baru menerobos masuk melalui jendela besar, membelai kasur dan kursi di dalam kamar penginapan. Jendela berukuran besar ini dari dalam kamar tampak seperti lukisan nyata pemandangan bukit hijau perkebunan teh dengan pohon-pohon pinus dan cemara di sekitarnya.

Teras deretan guest house ini menghadap langsung ke arah lapangan rumput dengan taman dan pepohonan yang tertata sangat rapi. Di sebelah kanan lapangan luas ini, terdapat rumah peninggalan KAR Bosscha, ilmuwan yang terkenal sebagai pendiri Observatorium Bosscha di Lembang. Rumah ini memiliki deretan jendela besar serta atap khas bangunan Sunda julang ngapak.

Di bagian belakang rumah peninggalan KAR Bosscha, terdapat lapangan rumput lain yang lebih luas. Pada ujung lapangan, terdapat tujuh vila yang dinding dan lantainya terbuat dari kayu, serta dua wisma lainnya yang berukuran lebih besar dan berkapasitas puluhan orang. Setiap bangunan memiliki sudut pemandangan masing-masing ke arah perkebunan teh berbukit.

Di depan kompleks bangunan ini, terdapat jalan penghubung perkebunan teh dengan Jalan Raya Pangalengan. Pada pagi hari, cahaya matahari menyorot dari samping, menembus celah-celah deretan pepohonan berukuran besar yang mengapit jalan yang dipakai sejak ratusan tahun tersebut.

Berjalan kaki di jalan perkebunan ini tampaknya menjadi agenda wajib bagi para pengunjung penginapan Malabar. Jalan yang diapit pepohonan besar ini menjadi tempat yang pas untuk berjalan santai sambil berfoto mengabadikan keindahan alam.

Di jalan ini, tampak sejumlah pengunjung bersepeda sambil menikmati pemandangan hamparan perkebunan teh. Ada juga banyak pengunjung yang berfoto, sedangkan di sisi lainnya para pemetik teh berjalan menuju kebun tehnya.

Selain oleh hamparan perkebunan teh dan pegunungan sejauh mata memandang, para pengunjung pun akan dimanjakan dengan kicauan burung-burung yang bersarang di atas pohon-pohon besar di pinggiran jalan perkebunan.

Bagi pengunjung asal Kota Bandung, Ryan Maulana (40), menginap di Malabar merupakan pilihan dia dan keluarganya untuk menikmati liburan di awal tahun. Menurut fotografer tersebut, menginap dan menghabiskan hari di perkebunan teh memiliki keunikan tersendiri.

"Hampir setiap tahun, libur tahun baru dihabiskan di tempat sesak ramai, macet, berisik. Saya memilih di Malabar karena bisa menikmati liburan ini di dengan nyaman, tanpa macet, dan bisa menikmati pemandangan alam," kata Maulana di Malabar, Senin (2/1).

Dian mengatakan selain kenyamanan saat menginap di tengah perkebunan teh yang tenang, dia bisa mendapatkan udara segar pada pagi hari yang tentram di sekitar penginapan. Pada malam hari, menyalakan api unggun menjadi hal yang paling menyenangkan di tengah dinginnya udara Malabar.

"Orang sini mungkin terbiasa denga  pemandangan seindah ini dan udara sesegar ini. Tapi untuk yang tinggal di kota, dibtengah hiruk-pikuk kesibukan orang kota, hal seperti ini sangat mahal. Makanya, puas-puasin saja di sini," katanya.

Pengunjung lainnya, Pujangga (28), mengatakan lebih menyukai ketentraman pada malam hari di sekitar rumah peninggalan Bosscha tersebut. Lokasinya yang berjauhan dengan pusat kota menjadikan penginapan ini lebih privat.

"Saat malam dan langit cerah, bintang-bintang terlihat jelas dinlangit. Mungkin karena ini lokasinya jauh dari keramaian dan polusi cahayanya masih sangat minimal. Ini lokasi yang antimainstream, buat yang sudah bosan dengan kebisingan kota, cafe, tempat rekreasi populer, hotel di kota, dan mall," katanya.

Menurut Pujangga, kesunyian di Malabar dapat membuat pengunjung bisa lebih menjalin keakraban dengan keluarga atau teman yang menginap bersama. Sebab, katanya, pengunjung tidak diganggu oleh aktivitas keramaian.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved