Ridwan Kamil: Larangan Styrofoam Berdampak Nasional

Sejak pelarangan pemakaian styrofoam 1 November 2016 diklaim Badan Pengelola Lingkungan Hidup (BPLH) Kota Bandung sudah banyak perubahan signifikan

Ridwan Kamil: Larangan Styrofoam Berdampak Nasional
Muhamad Nandri Prilatama
Wali Kota Bandung M Ridwan Kamil 

BANDUNG, TRIBUNJABAR.CO.ID -- Sejak pelarangan pemakaian styrofoam 1 November 2016 diklaim Badan Pengelola Lingkungan Hidup (BPLH) Kota Bandung sudah banyak perubahan signifikan. "Warga Kota Bandung sangat patuh dan cerdas, begitu ada pelarangan serempak melaksanakan, semua jajaran Pemkot tidak lagi menggunakan styrofoam," ujar Kepala BPLH Kota Bandung Hikmat Ginanjar saat pameran dan sosialisasi penggunaan kemasan alternatif pengganti styrofoam dan plastik di Teras Bandung Indah Plaza (BIP), Jalan Merdeka Bandung, Rabu (14/12/2016).

Pameran mengusung tema "Selamat Tinggal Styrofoam" diikuti 10 komunitas dan pengusaha kemasan makanan berbahan non-polistirena.

Peserta pameran Avani, sebuah perusahaan Indonesia-Swedia yang memproduksi kemasan mirip plastik dan styrofoam yang berbahan dasar ampas tebu, ampas jagung, dan ampas singkong. Setelah penelitian selama 2 tahun, bahan tersebut diklaim dapat terurai dalam waktu 60-180 hari menjadi kompos.

Selain itu, ada pula berbagai komunitas dan pengusaha kemasan seperti Rumah Kemasan Bandung, Packaging House, dan Rumah Kemasan Balai Pengembangan Perindustrian Jawa Barat yang turut meramaikan acara. Berbagai jenis kemasan berbahan karton, kertas, alumunium foil, hingga anyaman bambu hadir untuk menggantikan posisi plastik dan styrofoam menjadi kemasan makanan.

Sementara itu Wali Kota Bandung Ridwan Kamil yang ikut mengkampanyekan pelarangan styrofoam di BIP mengatakan, pameran ini muncul inovasi-inovasi yang dapat berkontribusi positif bagi lingkungan.

"Sudah tidak ada alasan tidak bergeser ke packaging-packaging yang ramah lingkungan, variasinya sangat banyak, betul-betul tinggal mempopulerkan," ujar Emil panggilan Ridwan Kamil.

Emil optimisme, kebijakan yang digulirkannya 1 November lalu dapat membawa dampak positif terhadap lingkungan.
"Kebijakan pemerintah kota tidak hanya berdampak di Kota Bandung saja. Tapi secara nasional ini berpengaruh, contohnya produsen mi instan kemasan styrofoam pun akan mengganti kemasannya,"ujar Emil.

Emil mengatakan, selama 3 tahun pemerintahannya mengeluarkan 40 kebijakan berupa Peraturan Daerah, Peraturan Wali Kota untuk perbaikan lingkungan salah satunya pelarangan styrofoam.

Emil minta agar masyarakat tidak perlu khawatir dengan perubahan harga kemasan yang relatif lebih mahal daripada plastik dan styrofoam. Prinsipnya, perubahan positif yang jangka panjang memang perlu dibayar mahal. Tapi kebaikan yang dihasilkannya juga sebanding dengan pengorbanan tersebut.

"Jangan selalu membandingkan sebuah inovasi kebaikan. Harus dibandingkan dari versi harga gerakan. Mahalnya juga bukan berlipat-lipat. Tapi itulah masa depan, jauh lebih mahal harganya jika membiarkan kerusakan dengan cara-cara yang konvensional non-professional dibanding proses transisi sekarang. Lebih mahal sedikit tapi saya kira bisa di sesuaikan," ujar Emil.(tsm)

Penulis: Tiah SM
Editor: Ferri Amiril Mukminin
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved